Kronologi Dokter di Cianjur Meninggal Positif Tertular Campak saat Bertugas
Awal gejala dan tetap berdinas
Sekitar 10 hari sebelum gejala muncul, AMW sempat menangani pasien dengan gejala campak, diduga sebagai sumber penularan.
Pada 18 Maret 2026, AMW mulai mengalami gejala awal campak seperti demam, batuk, dan flu, lalu sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan istirahat.
Namun, pada 19–21 Maret 2026, AMW memaksakan diri masuk kerja tiga hari berturut‑turut dan tetap menangani pasien campak karena merasa tubuh masih cukup fit.
Muncul ruam dan perburukan kondisi
Pada 21 Maret, mulai muncul ruam khas campak di kulit, tapi AMW masih tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak.
Mulai 22–24 Maret, AMW mengalami perburukan kondisi dan menjalani perawatan mandiri di rumah.
Pada 24 Maret, melalui pesan WhatsApp, AMW mengabarkan rekan‑rekannya bahwa dirinya terkena campak dengan ruam di tubuh.
Dirawat hingga meninggal
Pada 25 Maret 2026 sekitar pukul 22.00–23.00 WIB, AMW dibawa ke IGD RSUD Cimacan oleh keluarga dalam kondisi penurunan kesadaran sekitar satu jam sebelumnya.
Pada pukul 00.30 WIB 26 Maret, AMW dirujuk ke ruang ICU, kondisi terus memburuk, lalu dilakukan intubasi sekitar pukul 08.15 WIB.
Pada 26 Maret 2026 pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal dengan diagnosis akhir campak disertai komplikasi gangguan jantung dan otak.
Konfirmasi laboratorium dan respons Kemenkes
Spesimen AMW diperiksa di Laboratorium Biofarma dan hasilnya positif campak pada 28 Maret 2026.
Kemenkes bersama Dinas Kesehatan Jawa Barat dan Cianjur melakukan penyelidikan epidemiologi serta memperketat pengawasan dan penggunaan APD untuk tenaga kesehatan menghadapi kasus campak.

