Mengapa Valuasi Bitcoin yang Tertekan Menawarkan Risiko Penurunan Lebih Rendah Dibanding Saham

Mengapa Valuasi Bitcoin yang Tertekan Menawarkan Risiko Penurunan Lebih Rendah Dibanding Saham

Bitcoin saat ini menunjukkan valuasi yang relatif rendah dibandingkan metrik likuiditas global, seperti M2 money supply yang mencapai rekor $142 triliun pada Q3 2025. 

Hal ini membuat Bitcoin undervalued hingga 66% terhadap likuiditas, berbeda dengan aset seperti emas yang justru overvalued. Fenomena ini muncul di tengah kebijakan pelonggaran moneter bank sentral, yang secara historis mendorong kenaikan harga Bitcoin.

Perbandingan Risiko dengan Saham

Saham memiliki valuasi lebih tinggi dengan rasio price-to-earnings (P/E) yang membengkak, sehingga rentan terhadap koreksi tajam jika suku bunga naik atau resesi terjadi. S

ebaliknya, Bitcoin's compressed valuation dihitung dari model seperti Stock-to-Flow (S2F) PlanB menjanjikan upside hingga 194% jika gap valuasi tertutup, dengan risiko penurunan terbatas berkat adopsi institusional seperti ETF crypto $191 miliar. Data on-chain juga mendukung, menunjukkan akumulasi whale dan tokenized assets $275 miliar.

Aspek

Bitcoin

Saham

Valuasi Saat Ini

Undervalued 66%

Overvalued (P/E tinggi)

Downside Risk

Rendah (likuiditas tinggi)

Tinggi (siklus ekonomi)

Potensi Upside

194% (siklus 2026)

Terbatas (koreksi pasar)

Implikasi untuk Investor 2026

Laporan Bitwise menegaskan Bitcoin sebagai "coiled spring" di dunia fiat yang banjir uang, dengan siklus bull extended hingga 2026 meski ada pullback. 

Investor disarankan memantau fear index yang ekstrem sebagai sinyal beli, karena alignment historis dengan likuiditas global mengurangi risiko jangka pendek dibanding saham. Prediksi harga fair value Bitcoin bisa tiga kali lipat dari level saat ini, menjadikannya aset kontrarian unggulan.

Next Post Previous Post