Pipa Minyak Strategis Arab Saudi Beroperasi Penuh 7 Juta BPH
Arab Saudi telah mengaktifkan pipa minyak East-West secara maksimal untuk mengatasi gangguan di Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jalur pipa sepanjang 1.200 km ini kini beroperasi pada kapasitas penuh 7 juta barel per hari (BPH), memungkinkan ekspor minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Latar Belakang dan Kapasitas Pipa
Pipa East-West Crude Oil Pipeline dibangun sejak 1980-an sebagai rute alternatif menghindari risiko di Selat Hormuz, yang sering terganggu konflik regional. Normalnya berkapasitas 5 juta BPH, pipa ini ditingkatkan hingga 7 juta BPH dengan konversi jalur pendukung untuk minyak mentah. Saudi Aramco, operator utama, memindahkan sebagian besar ekspor dari timur ke barat, termasuk reposisi 25 kapal tanker ke Yanbu.
Dampak Geopolitik Terkini
Langkah ini dipicu oleh perang dan gangguan di Teluk Persia, termasuk serangan AS ke Pulau Kharg serta ancaman Houthi di Laut Merah. Ekspor dari Yanbu melonjak menjadi 4,19 juta BPH dalam lima hari terakhir, hampir setengah dari total ekspor Saudi pra-konflik sekitar 7 juta BPH. Meski pelabuhan Yanbu terbatas pada 5 juta BPH, ini menjaga pasokan global tetap stabil.
Implikasi Ekonomi Global
Peningkatan ini mengurangi ketergantungan pada Hormuz, yang hampir tertutup, dan mencegah turbulensi pasar minyak lebih lanjut. Indonesia dan negara Asia lainnya diuntungkan karena aliran minyak tetap lancar, meski risiko serangan ke Yanbu tetap ada dari Iran dan kelompok proksi. CEO Aramco Amin Nasser optimis kapasitas penuh tercapai dalam hitungan hari.

