Ramai Uang Palsu Jelang Lebaran 2026, Begini Cara Mudah Membedakannya
Menjelang Lebaran 2026, peredaran uang palsu semakin marak, terutama saat penukaran THR dan angpao. Bank Indonesia menganjurkan metode 3D—Dilihat, Diraba, Diterawang—untuk cek keaslian Rupiah secara cepat tanpa alat khusus.
Mengapa Uang Palsu Beredar?
Peredaran uang palsu meningkat saat musim Lebaran karena transaksi tunai melonjak, seperti tukar uang baru di pasar atau bagi-bagi THR. Modus pelaku semakin canggih, tapi kerugian finansial bisa dihindari dengan waspada. Polisi aktif menyelidiki jaringan ini, dan masyarakat diminta lapor jika temukan uang palsu.
Metode 3D: Dilihat
Amati visual uang dengan mata telanjang: warna cerah-tajam, gambar pahlawan jelas, dan tinta OVI (Optically Variable Ink) pada logo BI berubah warna saat dimiringkan. Benang pengaman terintegrasi dengan warna sesuai pecahan, seperti Rp20.000 atau Rp100.000; uang palsu sering pudar atau buram.
Metode 3D: Diraba
Raba permukaan: uang asli kasar/intaglio pada gambar utama, angka nominal, Garuda, dan tulisan BI berkat cetak khusus. Kode tunanetra (blind code) berupa garis timbul di tepi kiri-kanan terasa jelas; palsu halus/licin karena kertas biasa.
Metode 3D: Diterawang
Terawang ke cahaya: tampak watermark gambar pahlawan, rectoverso (logo BI utuh depan-belakang), electrotype, dan benang pengaman menyatu (bukan cetak permukaan). Nomor seri jelas tak terputus; palsu watermark buram atau benang palsu.
Tips Tambahan
Bandingkan dengan uang asli, hindari nominal besar saat tukar uang, dan gunakan sinar UV jika ada (cetakan memendar warna). Tukar di bank resmi atau BI, laporkan uang palsu ke polisi. Metode 3D efektif untuk emisi terbaru.

