Robert Kiyosaki Kutip Strategi Uang Tunai Warren Buffett Sambil Akumulasi Bitcoin Jelang Crash Besar
Robert Kiyosaki, penulis buku legendaris Rich Dad Poor Dad, baru-baru ini mengadopsi strategi "uang tunai adalah raja" ala Warren Buffett sambil terus memborong Bitcoin menjelang prediksi crash pasar besar. Ia memperingatkan investor tentang risiko utang nasional AS yang membengkak dan ketegangan geopolitik, seperti di Selat Hormuz, yang bisa memicu kenaikan harga minyak.
Latar Belakang Strategi Kiyosaki
Kiyosaki sering membandingkan pendekatannya dengan Buffett, meski berbeda dalam pilihan aset. Ia menekankan akumulasi aset jangka panjang seperti Bitcoin, emas, dan perak, bukan sekadar menimbun uang tunai. Pada Maret 2026, Kiyosaki menyatakan sedang mempraktikkan strategi Buffett untuk menghadapi volatilitas pasar global.
|
Aspek Strategi |
Warren Buffett |
Robert Kiyosaki |
|
Fokus Utama |
Uang tunai untuk peluang beli murah |
Bitcoin, emas, perak + uang tunai |
|
Risiko Disebut |
- |
Utang AS, geopolitik |
|
Prediksi |
Cash is king |
Crash besar, lalu boom aset riil |
Pandangan Bullish Terhadap Bitcoin
Meski pasar kripto fluktuatif, Kiyosaki tetap optimis. Ia berencana "serok sebanyak mungkin" jika Bitcoin jatuh, dengan harga saat ini bertahan di atas level kunci seperti $95.000. Pada Februari 2026, ia kembali membeli Bitcoin setelah menjual sebagian pada 2025 untuk real estate, mengunci untung besar dari harga $6.000 ke $90.000.
Peringatan Ekonomi Global
Kiyosaki memprediksi "giant crash" akibat pencetakan uang berlebih dan ketidakpastian ekonomi. Ia menantikan "bottom baru" untuk Bitcoin dan emas, mirip sikapnya saat Buffett dan Jim Rogers kurangi saham/bonda. Strategi ini selaras dengan minat investor Indonesia terhadap kripto dan pasar keuangan global.

