Telkom Diminta Konsolidasi Aset Fiber Optik BUMN oleh Danantara
Danantara mendorong PT Telkom Indonesia untuk mengonsolidasikan aset fiber optik milik semua BUMN ke bawah kendalinya, sebagai bagian dari strategi restrukturisasi. Langkah ini menunda rencana mencari mitra atau investor hingga tahun depan, dengan fokus utama pada penguatan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) sebagai fiberco yang kompetitif.
Latar Belakang Arahan
Direktur Utama TelkomGroup Dian Siswarini menyatakan bahwa arahan ini mencakup tidak hanya fiber optik, tapi juga real estate dan sektor lain, sesuai kebijakan Danantara untuk efisiensi BUMN. BUMN seperti PT PLN (via Icon Plus) dan PT Jasa Marga (via Jasa Marga Related Business) disebut memiliki aset fiber yang potensial digabung.
Dampak Bisnis Telkom
Setelah spin-off fiber optik ke InfraNexia (yang sudah diteken akhir 2025), kontribusi pendapatan dari layanan fiber netral untuk pihak ketiga ditargetkan naik dari 15% menjadi 25-40%. Konsolidasi ini dianggap langkah awal sebelum unlock nilai lebih lanjut.
Danantara juga merampingkan 66 anak usaha Telkom menjadi empat unit utama: Telkomsel, InfraCo (fiber), Mitratel (menara), dan data center, bagian dari pemangkasan total BUMN dari 1.043 menjadi 300 perusahaan pada 2026.

