Bandara Kertajati Kejar 2,5 Juta Penumpang, Siapkan Sistem Multi‑Airport
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka menargetkan melayani sekitar 2,5 juta penumpang per tahun sebagai titik kemandirian operasional, sekaligus menyiapkan konsep multi‑airport system untuk membagi trafik penerbangan dari bandara besar seperti Soekarno‑Hatta.
Target 2,5 juta penumpang
Direktur Utama PT BIJB Ronald H. Sinaga menyebut angka 2,5 juta penumpang per tahun sebagai batas minimal agar operasional Bandara Kertajati bisa berjalan tanpa bergantung lagi pada suntikan anggaran pemerintah. Dia menilai target ini realistis, mengingat dukungan yang terus mengalir dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah daerah setempat.
Pengelola bahkan menyebut, jika penumpang bisa menembus 2,5–4 juta per tahun, bandara akan lebih mudah mencicil kewajiban dan menstabilkan kondisi keuangan perusahaan.
Konsep multi‑airport system
Kunci strategi untuk mengejar target itu adalah penerapan multi‑airport system, yaitu skema pembagian trafik penerbangan dari bandara utama ke Kertajati dan sebaliknya. Konsep ini tidak serta‑merta memindahkan semua slot, melainkan hanya membagi sebagian jadwal, khususnya rute dengan frekuensi tinggi, sehingga beban di Bandara Soekarno‑Hatta bisa berkurang dan Kertajati mendapat porsi yang lebih pasti.
Dengan semakin banyak penerbangan yang dialihkan sebagian ke Kertajati, manajemen meyakini trafik penumpang akan meningkat dan fasilitas bandara di Majalengka bisa dimanfaatkan lebih optimal.
Transformasi ke pusat ekonomi penerbangan
Selain menggenjot penumpang, Pemerintah Jawa Barat juga mengusulkan transformasi Bandara Kertajati menjadi pusat ekonomi berbasis industri penerbangan dan logistik, antara lain melalui pengembangan Aerospace Park. Dari sisi keuangan, BIJB juga akan melakukan konversi utang menjadi modal dan membuka peluang masuknya mitra strategis dengan proyeksi modal dasar hingga kisaran Rp10 triliun.
Kombinasi target 2,5 juta penumpang, konsep multi‑airport system, dan pengembangan kawasan industri penerbangan diharapkan menjadikan Kertajati tidak lagi hanya “bandara kelongsong” yang sepi, melainkan simpul penting dalam jaringan transportasi dan ekonomi udara Indonesia.

