BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Rupiah dan Inflasi Jadi Fokus Utama

BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Rupiah dan Inflasi Jadi Fokus Utama

Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI‑Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini menandai kelima kalinya secara berturut‑turut BI tidak menurunkan bunga, sekaligus menegaskan bahwa stabilitas rupiah dan inflasi tetap menjadi fokus utama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Alasan BI tahan suku bunga

BI mempertahankan level 4,75 persen agar tidak terjadi terlalu cepat atau mendadak dalam pelonggaran kebijakan moneter, terutama karena tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, fluktuasi harga komoditas, dan volatilitas arus modal asing masih membayangi rupiah. Di sisi lain, BI menilai inflasi masih terkendali dan berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen untuk 2026–2027, sehingga tidak ada urgensi menaikkan bunga untuk menahan harga.

Fokus pada stabilitas rupiah

Menahan suku bunga 4,75 persen juga menjadi instrumen untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terkoreksi terlalu dalam. BI menggunakan berbagai instrumen seperti intervensi valas, transaksi Domestic Non‑Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Dengan cara ini, BI berusaha mengurangi tekanan kapital keluar (capital outflow) dan volatilitas jangka pendek di pasar keuangan domestik.

Dampak terhadap inflasi dan ekonomi

Dari sisi inflasi, BI menyebut inflasi inti tetap rendah dan stabil, yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter saat ini cukup efektif mengendalikan tekanan harga. Di sisi lain, mempertahankan tingkat bunga yang relatif longgar masih membuka ruang bagi pertumbuhan kredit dan investasi, sehingga tetap mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Peluang penurunan suku bunga ke depan

Meski saat ini menahan bunga, BI menyiratkan bahwa ruang penurunan suku bunga masih terbuka selama inflasi tetap terkendali dan tekanan eksternal perlahan meredam. Investor dan pelaku pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari data inflasi, neraca perdagangan, dan arah kebijakan Federal Reserve AS sebagai indikator apakah siklus pelonggaran moneter bisa berlanjut di semester pertama atau kedua 2026.

 

Next Post Previous Post