Bitcoin Jatuh ke 76.000 Dolar AS, Iran Kembali Regulasi Selat Hormuz
Harga Bitcoin kembali melemah ke kisaran 76.000 dolar AS pada Sabtu–Minggu lalu, setelah Iran mengumumkan kembali memperketat kontrol atas Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah sempat membuka jalur maritim strategis itu secara penuh. Aksi ini memicu kembali sentimen risiko di pasar kripto dan menghentikan reli singkat yang sempat membawa Bitcoin mendekati 78.000 dolar AS dalam 24 jam terakhir.
Gerak Harga Bitcoin: Naik, Lalu Tertahan
| (Foto Harga Bitcoin dari TradingView) |
Selat Hormuz: Dibuka Lalu Diregulasi Lagi oleh Iran
Pembukaan sementara Selat Hormuz membuat harga minyak mentah anjlok hingga sekitar 10–11 persen, dari level di atas 95 dolar per barel menjadi kisaran 85–86 dolar per barel, yang mendorong sentimen risk‑on di aset kripto dan pasar finansial global.
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Iran menyatakan kembali memperketat pengawasan Selat Hormuz lewat agen berita resmi, dengan menyebut jalur tersebut “kembali di bawah manajemen dan kontrol militer”, merespons blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat.
Dampak Geopolitik ke Pasar Kripto
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20–25 persen ekspor minyak dunia, sehingga sikap Iran memengaruhi langsung premi risiko komoditas energi dan, secara berantai, ke aset beresiko tinggi seperti Bitcoin.
Ketika Iran mengumumkan kembali menutup/merengket jalur itu, pasar kembali cemas akan potensi gangguan rantai pasok minyak, sehingga beberapa investor mengambil profit atau kembali ke aset yang dianggap lebih aman.
Likuidasi Short dan Volatilitas Tinggi
Lonjakan ke 78.000 dolar AS memicu likuidasi besar di sisi short, dengan satu laporan menyebut sekitar 593 juta dolar posisi bearish Bitcoin lenyap dalam tempo singkat.
Setelah kembali ke kisaran 76.000 dolar AS, pergerakan ini menunjukkan betapa volatilnya Bitcoin terhadap sentimen geopolitik: selisih 2.000–2.500 dolar dalam 24 jam bisa terjadi hanya karena perubahan status satu jalur minyak global.
Dampak ke Investor dan Trader
Bagi trader, pergerakan ini menjadi contoh klasik risiko penggunaan leverage tinggi saat ada katalis geopolitik besar. Ketika volatilitas melonjak, posisi short atau long dengan margin tipis bisa langsung terkena likuidasi.
Bagi investor jangka panjang, pola ini mengingatkan bahwa Bitcoin masih sangat sensitif terhadap sentimen makro: ketegangan energi, sanksi, dan manuver geopolitik bisa mempercepat koreksi atau reli.

