Chandra Daya Investasi Bukukan Laba Rp2,19 Triliun Sepanjang 2025
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat kinerja keuangan 2025 yang tergolong “gemilang”, dengan laba bersih yang melonjak sekitar 280–300% dari tahun sebelumnya. Perolehan ini menempatkan CDIA sebagai salah satu emiten baru dengan pertumbuhan profitabilitas tertinggi di tahun pertama debutnya di Bursa Efek Indonesia.
Laba bersih capai Rp 2 triliun lebih
Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2025, CDIA membukukan laba bersih sekitar 121–128 juta dolar AS, yang setara dengan Rp 2,0–2,15 triliun (dengan kurs kisaran Rp 16.600–16.900 per dolar AS). Angka ini melonjak sekitar 280–295% dibanding laba bersih 2024 yang berada di kisaran 30–33,5 juta dolar AS, sehingga menjadikan 2025 sebagai “tahun melonjak” bagi perseroan.
Lonjakan laba didukung oleh pendapatan yang naik sekitar 44–45% secara year‑on‑year (yoy), dari sekitar 102 juta dolar AS menjadi sekitar 148 juta dolar AS pada 2025. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bisnis inti CDIA masih mampu menangkap momentum pertumbuhan pasar, terutama di sektor energi dan jasa terkait.
Segmen energi dan sewa kapal jadi penopang utama
Jika dirinci menurut segmen usaha, kontribusi terbesar pendapatan CDIA berasal dari penjualan daya listrik dan jasa kelistrikan, dengan kontribusi sekitar 10,5 juta dolar AS hingga 105–106 juta dolar AS, tergantung metode breakdown per sumber. Pada 2025, segmen ini mengalami pertumbuhan single‑digit hingga di atas 15% yoy, menunjukkan permintaan daya listrik yang masih stabil di tengah gairah industri.
Di sisi lain, segmen sewa kapal dan jasa terkait kapal juga menjadi penopang penting. Pendapatan sewa kapal mampu mencapai sekitar 34–35 juta dolar AS di 2025, dengan kontribusi yang signifikan terhadap total pendapatan perseroan. Anomali positif juga terlihat pada bisnis sewa kapal di pertengahan 2025, di mana bisnis ini sempat tumbuh lebih dari 1.000% secara tahunan dalam periode kuartal tertentu, meski sebagian kenaikan ini berdampak pada volatilitas laba non‑operasional.
Margin laba kian “tebal”
| (Foto Saham CDIA dari Google Finansial) |
Permodalan dan akses pendanaan diperkuat
Selama 2025, CDIA juga memperkuat basis permodalan dan akses pendanaan melalui berbagai sumber, termasuk penyertaan modal pemegang saham, pasar modal ekuitas, serta fasilitas perbankan domestik dan lintas negara. Penguatan struktur permodalan ini membantu perseroan menopang ekspansi dan diversifikasi portofolio, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu alur pendapatan saja.
Namun, beberapa analis juga mengingatkan bahwa valuasi CDIA pasca‑IPO tergolong relatif mahal, dengan rasio Price‑to‑Earnings (P/E) tersirat yang cukup tinggi. Mereka menilai bahwa investor perlu memantau komposisi laba, apakah kenaikan didorong oleh kinerja operasional inti atau dominasi pendapatan non‑operasional yang rentan fluktuatif.
Outlook dan tantangan ke depan
Bagi investor jangka pendek, lonjakan laba CDIA dalam satu tahun menjadi daya tarik tersendiri dan kerap dijadikan bahan analisis saham growth. Namun untuk jangka menengah–panjang, fokus utama akan bergeser ke konsistensi pendapatan operasional, manajemen risiko pasar energi, dan kedisiplinan struktur keuangan perseroan.
Dengan bisnis multi‑pilar yang terdiri dari energi, sewa kapal, penyimpanan, dan jasa kepelabuhanan, CDIA memiliki potensi untuk terus meraih momentum positif selama permintaan daya listrik dan aktivitas maritim tetap stabil. Yang menjadi kunci, perseroan perlu memastikan bahwa kenaikan laba di masa depan tetap berakar pada kinerja operasional yang sehat, bukan hanya ledakan satu‑kali (one‑time) dari pendapatan non‑inti.

