Harga Plastik Naik Tajam, Kepala Daerah Dorong UMKM Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

Harga Plastik Naik Tajam, Kepala Daerah Dorong UMKM Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

Belakangan ini harga bahan kemasan plastik, terutama kantong kresek dan wadah makanan sekali pakai, melejit hingga 80–100 persen di sejumlah daerah. Kenaikan dipicu gangguan pasokan bahan baku plastik dari Timur Tengah akibat ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak, sehingga biaya resin dan kemasan plastik ikut melambung.

Akibatnya, banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya kuliner yang banyak menggunakan kemasan take away, merasa terbebani karena biaya produksi per produk meningkat drastis.

Respons gubernur dan wali kota

Sejumlah kepala daerah mulai merespons situasi ini dengan mengimbau UMKM dan konsumen beralih ke kemasan lebih berkelanjutan. Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, misalnya mendorong pelaku UMKM memanfaatkan bahan alami seperti daun pisang sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai. Cara ini tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga menambah nilai estetika dan cita rasa khas pada makanan yang dijual.

Di sisi lain, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa harga plastik di wilayahnya sempat melonjak hingga empat kali lipat, terutama untuk kantong dan wadah kemasan. Pemerintah kota tengah menggali penyebab pasti kenaikan dan memandang kondisi ini sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Kampanye bawa wadah sendiri dan kemasan ramah lingkungan

Pemkot Bandung dan beberapa kota lainnya mulai menggiatkan kampanye “bawa wadah sendiri” saat membeli makanan atau belanja di pasar. Imbauan ini ditujukan kepada masyarakat dan pedagang untuk mengurangi penggunaan kantong plastik kresek dan gelas plastik sekali pakai yang harganya kini jauh lebih mahal.

Di Surabaya, Pemkot mendorong pelaku UMKM beralih ke kemasan ramah lingkungan, seperti kemasan kertas, daun, atau bioplastik, serta mendorong pola penjualan dalam jumlah lebih besar agar penggunaan plastik per unit bisa ditekan. Beberapa kota juga berupaya memangkas rantai distribusi dengan menghubungkan langsung UMKM dengan distributor bahan baku untuk menekan kenaikan harga.

Alasan kenaikan harga dan dampak jangka panjang

Kenaikan harga plastik bukan hanya soal konflik di Timur Tengah, tetapi juga mencerminkan ketergantungan tinggi Indonesia terhadap bahan baku plastik impor, seperti nafta dan resin, sehingga gejolak global cepat langsung menghantam harga domestik. Pakar melihat lonjakan ini sebagai “bel alarm” bahwa sistem ekonomi kemasan sekali pakai masih sangat rapuh dan berisiko bagi UMKM.

Di sisi lain, tekanan harga ini juga dipandang sebagai peluang untuk mempercepat transisi ke sistem pengemasan berkelanjutan, termasuk penggunaan bioplastik, kemasan daur ulang, dan kampanye guna‑ulang (reuse) yang lebih masif. 

Dengan dukungan pemerintah daerah, UMKM, dan konsumen, kondisi plastik mahal bisa diubah menjadi momentum untuk mengurangi sampah plastik dan meningkatkan daya saing produk yang lebih hijau.

 

Next Post Previous Post