IHSG Berbalik Hijau, Dipacu Saham‑Saham Prajogo dan Grup Bakrie
| (Foto IHSG dari Google Finansial) |
Sebanyak 348 saham menguat, 305 saham melemah, dan 162 saham tidak bergerak, dengan nilai transaksi sesi siang mencapai sekitar Rp 10,10 triliun dari 23,55 miliar saham yang diperdagangkan.
Peran Sektor Perdagangan dan Emiten Konglomerat
Mayoritas sektor perdagangan tercatat menguat, dengan sektor infrastruktur dan barang baku mencatat kenaikan terbesar. Sementara itu, sektor teknologi dan finansial justru menjadi yang paling tertekan pada perdagangan hari itu.
Kinerja IHSG juga didorong dominasi emiten‑emiten konglomerat, khususnya dari keluarga Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie, yang menjadi penggerak utama sentimen positif di pasar.
Saham Prajogo Pangestu Jadi Tumpuan Utama
| (Foto Saham BRPT dari Google Finansial) |
BRPT (Barito Pacific) memberikan kontribusi sekitar 16,6 poin indeks.
BREN (Barito Renewables Energy) memberikan dorongan sekitar 9,22 poin indeks.
TPIA (Chandra Asri Pacific) menambah indeks sekitar 7,24 poin.
Selain ketiganya, emiten lain dalam lingkaran Prajogo seperti CUAN, PTRO, dan CDIA juga masuk ke dalam sepuluh besar saham penggerak IHSG, menunjukkan kembali dominasi kelompok ini di bursa.
Grup Bakrie Ikut Mendorong Gejolak IHSG
| (Foto Saham ENRG dari Google Finansial) |
IMPC bersama tiga emiten lain dari Grup Bakrie, yakni ENRG, BRMS, dan VKTR, masuk dalam daftar 10 besar penopang pergerakan indeks.
Kombinasi kenaikan saham Bakrie dan Prajogo Pangestu membuat volatilitas IHSG makin terasa, terutama di tengah sentimen geopolitik dan pergerakan mata uang global yang masih rawan.
Gejolak Geopolitik dan Dampak ke Pasar
Penguatan IHSG hari itu terjadi di tengah kondisi geopolitik global yang masih cukup memanas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4/2026) soal rencana blokade Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia, memperberat tensi di pasar komoditas dan energi.
Ancaman blokade itu memicu kekhawatiran bahwa konflik Iran–AS bisa memperburuk krisis ekonomi global, yang sebelumnya sudah terdampak pembatasan akses ke Selat Hormuz oleh Iran.
Data Domestik yang Masih Mendukung
Dari sisi domestik, data perdagangan dan konsumsi rumah tangga masih menunjukkan sinyal positif. Bank Indonesia merilis Survei Penjualan Eceran yang memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh sekitar 6,9 persen year‑on‑year, lebih tinggi dari pertumbuhan 5,7 persen pada Januari, dengan peningkatan bulanan sekitar 4,4 persen.
Pergerakan IHSG yang kembali ke zona hijau, didukung oleh saham konglomerat dan data domestik yang relatif solid, memberikan angin segar bagi investor jangka pendek, meski tetap wajib waspada terhadap risiko geopolitik dan fluktuasi harga komoditas.

