Iran Terapkan Tol Bitcoin di Selat Hormuz, Kripto Rebound Global
Pemerintah Iran telah mewajibkan pembayaran “tarif tol” bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz menggunakan aset kripto, khususnya Bitcoin, sebagai bentuk tarif baru perjalanan maritim strategis tersebut. Kebijakan ini memicu kenaikan harga Bitcoin sekitar 6 persen, mendekati 75.000 dolar AS, tandai kembalinya sentimen positif di pasar kripto global.
Menteri Energi Iran, Javad Owji, mengumumkan tarif setara 1 dolar AS per barel minyak muatan yang dibawa kapal, dibayar dengan kripto, menggantikan pembayaran tradisional pasca gencatan senjata dengan Amerika Serikat pada April 2026.
Kebijakan Tol Kripto dan Tekanan Sanksi
Otoritas Iran khawatir tekanan geopolitik dan sanksi internasional dapat memicu penutupan Selat Hormuz, jalur transit minyak global yang mengalami penurunan trafik dari 21 juta barel per hari menjadi 12–14 juta.
Kebijakan “tol Bitcoin” bertujuan menjaga arus lalu lintas tetap terbuka sambil memanfaatkan sistem blockchain yang sulit disita, sebagai strategi menghindari pembatasan keuangan tradisional. Tarif ini berlaku untuk kapal tanker yang melintas, dengan pembayaran dalam kripto menandai pergeseran peran aset digital dari investasi spekulatif menjadi alat transaksi strategis lintas negara.
Dampak pada Harga Bitcoin dan Kripto
Lonjakan permintaan Bitcoin untuk pembayaran tol, ditambah aksi “short squeeze” besar di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, mendorong kenaikan harga.
Bitcoin naik 6 persen, Ethereum 8 persen ke 2.380 dolar AS, Solana 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, dan BNB 3,2 persen ke 615,50 dolar AS. Inflasi AS yang naik jadi 3,3 persen dan arus masuk 1,94 miliar dolar AS ke ETF Bitcoin spot Maret–April 2026 memperkuat momentum penguatan jangka pendek, kata Antony Kusuma, Wakil Presiden Indodax.
Prospek dan Implikasi Global
Skema ini menunjukkan adopsi kripto makin luas di level global, meski potensi tarif hingga 2 juta dolar AS per kapal menimbulkan risiko permintaan instan. Analis melihat tekanan global tetap dominan, namun pergeseran geopolitik dapat memperkuat posisi kripto sebagai aset alternatif.

