Konglomerat Prajogo Pangestu Tetap Orang Terkaya Indonesia, Harta Capai Rp394 Triliun di April 2026
Prajogo Pangestu kembali menempati posisi orang terkaya di Indonesia pada April 2026, dengan total kekayaan sekitar 23,1 miliar dolar AS atau setara Rp394 triliun, berdasarkan data pembaruan daftar miliarder Forbes per 9 April 2026.
Gelar “Orang Terkaya Indonesia”
Prajogo Pangestu, pendiri dan pengendali Grup Barito Pacific, mempertahankan posisi teratas dari daftar orang terkaya Indonesia dengan konsistensi nilai kekayaan yang tetap berada di atas para konglomerat besar lain seperti Anthoni Salim dan Robert Budi Hartono. Kekayaannya terutama bersumber dari penguatan value perusahaan‑perusahaan petrokimia, energi, dan infrastruktur yang berada di bawah kendali Barito Pacific Group.
Harta Rp394 Triliun di April 2026
Per 9 April 2026, kekayaan bersih Prajogo Pangestu mencapai 23,1 miliar dolar AS, yang jika dikonversi dengan kurs berkisar Rp17.000 per dolar AS sama dengan sekitar Rp394 triliun. Nilai ini menunjukkan bahwa mayoritas hartanya terkonsentrasi pada kepemilikan saham di emiten‑emiten grup Barito, seperti petrokimia, energi, dan infrastruktur, yang nilainya bergerak seiring pasar saham dan harga komoditas global.
Pergerakan Kekayaan di Awal 2026
Pada awal 2026, nilai kekayaan Prajogo Pangestu sempat mengalami fluktuasi besar, dengan lonjakan harian hingga sekitar US$1,4 miliar (sekitar Rp23–24 triliun) dalam satu hari, yang ikut mendorong harta kumulatifnya menembus lebih dari Rp600 triliun pada periode tertentu.
Namun, pada April 2026 angka tersebut berada di kisaran Rp394 triliun, menggambarkan koreksi dan realokasi penilaian aset seiring dinamika pasar dan valuasi saham emiten‑emiten grup Barito.
Perbandingan dengan Konglomerat Lain
Dibandingkan beberapa konglomerat besar Indonesia lain, seperti Anthoni Salim (Grup Sinar Mas) dan Robert Budi Hartono (Grup Djarum), kekayaan Prajogo Pangestu tetap berada di posisi teratas, meski seluruh kelompok ini mengalami perubahan nilai kekayaan sepanjang tahun 2026.
Perbedaan utama terletak pada basis bisnis utama: jika Grup Salim dan Hartono kuat di perbankan, FMCG, dan rokok, pra‑valensi kekayaan Pangestu justru bertumpu pada sektor petrokimia, energi, dan infrastruktur yang sensitif terhadap harga minyak dan komoditas global.

