Saham BBCA Sentuh Rp5.900‑an, Bos BCA Buka Suara
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sempat menguat lagi ke level Rp7.000–Rp7.500 pada awal 2026, namun sebelumnya pernah terkoreksi cukup dalam bahkan sempat menyentuh rentang Rp5.900–Rp6.000an di tengah tekanan pasar global dan net sell investor asing.
Di tengah fluktuasi ini, manajemen BCA, khususnya jajaran direksi dan komisaris justru terpantau agresif memborong saham sendiri (buy on weakness), yang menimbulkan spekulasi kuat mengenai potensi pemulihan dan rebound jangka menengah.
Penyebab Koreksi dan Sentimen Negatif
Sejak awal 2026, saham BBCA tercatat mengalami koreksi signifikan dengan net sell asing yang mencapai puluhan triliun rupiah, didorong sejumlah faktor seperti siklus kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, dan re‑rating valuasi bank‑bank besar oleh investor institusi luar negeri.
Banyak analis juga menyebut bahwa tekanan jual bertubi‑tubi ini membuat harga saham BBCA jauh “diskon” dibanding fundamental kuatnya, mulai dari kualitas kredit, likuiditas, dan profitabilitas yang masih solid.
Manajemen BCA: “Ini Cuma Koreksi”
| (Foto Harga Saham BBCA dari Aplikasi Stockbit) |
Bos‑Bos BCA Borong Saham Sendiri
Selain komentar manajemen, yang jadi sorotan kuat adalah aksi buyback dan akumulasi oleh jajaran direksi dan komisaris BCA di level harga yang sudah turun.
Sejumlah media melaporkan komitmen dana mencapai puluhan miliar rupiah (bisa sampai sekitar Rp26,1 miliar) untuk membeli saham BBCA pada harga sekitar Rp6.900–Rp7.000 per lembar, yang secara psikologis dianggap sebagai “sinyal beli” jangka menengah.
Analisis Valuasi: Murah vs. Bank Lain
Berdasarkan analisis beberapa media keuangan, valuasi PER BBCA pasca koreksi masih relatif murah, bahkan disebut sekitar 15x, jauh di bawah bank digital atau bank baru yang memiliki PER berkali‑kali lipat.
Dalam konteks itu, banyak analis berpendapat BBCA punya ruang rebound menuju level psikologis Rp8.000–Rp10.000 jika kembali ada stabilisasi aliran dana asing dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja keuangan perseroan.
Peluang dan Risiko bagi Investor
Bagi investor ritel, situasi BBCA saat ini menggambarkan tipikal saham blue‑chip besar: punya fundamental kuat, tetapi sangat rentan terhadap sentimen global karena dominasi pemegang saham institusi asing.
Strategi yang sering disarankan adalah mencicil akumulasi di level harga diskon, memantau arus net sell asing, dan mempertimbangkan horizon menengah‑panjang agar tidak tergoda cut‑loss emosional saat terjadi tekanan jual jangka pendek.

