Bitcoin Naik 12,7% di April, tapi Momentumnya Dipertanyakan

Bitcoin Naik 12,7% di April, tapi Momentumnya Dipertanyakan
Bitcoin melonjak sekitar 12,7% selama bulan April 2026, mencatatkan kenaikan bulanan terbesarnya sejak April 2025 dan dua bulan berturut‑turut berakhir positif setelah lima bulan penurunan beruntun.

Namun, data analitik menunjukkan bahwa kenaikan harga ini lebih banyak dipicu oleh aktivitas futures berleverage daripada peningkatan permintaan beli dari pasar spot, sehingga reli ini dinilai rentan terkoreksi.

Reli April Dipicu Perdagangan Berleverage

Bitcoin Naik 12,7% di April, tapi Momentumnya Dipertanyakan
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Menurut firma analitik CryptoQuant, kenaikan harga Bitcoin sepanjang April terutama didorong oleh perpetual futures, yaitu instrumen derivatif yang memungkinkan perdagangan dengan leverage tinggi. Di sisi lain, metrik “permintaan” CryptoQuant yang mengukur perubahan pembelian Bitcoin di pasar spot dalam 30 hari justru menunjukkan angka negatif, artinya pembelian riil (tanpa leverage) tidak menguat seiring naiknya harga.

Julio Moreno, kepala riset CryptoQuant, menyatakan bahwa pola ini umumnya menjadi sinyal peringatan: kenaikan harga yang hanya ditopang oleh posisi berleverage biasanya tidak punya fondasi struktural yang kuat dan kerap berujung pada koreksi ketika posisi futures di‑unwind atau dicairkan.

Permintaan Spot Masih Lemah

Sejumlah catatan menunjukkan bahwa permintaan spot masih lemah meskipun harga sempat menyentuh sekitar 79.500 dolar AS di pertengahan April. Data menunjukkan bahwa:

ETF Bitcoin menarik aliran masuk bersih sekitar 1,9 miliar dolar AS pada April, yang ikut membantu menopang harga.

Di akhir April, aliran masuk ETF melemah dengan keluaran bersih puluhan juta dolar, menandakan bahwa investor institusi mulai lebih berhati‑hati.

Dengan kata lain, kenaikan harga April bergantung lebih besar pada posisi derivatif dan arus dana ETF, bukan pada akumulasi berkelanjutan dari pembeli ritel atau pembeli jangka panjang.

Konteks Makro dan Geopolitik 2026

Tahun 2026 menyaksikan permintaan kripto yang fluktuatif dan sangat reaktif terhadap sentimen makro‑ekonomi global. Pergerakan harga Bitcoin kerap berirama dengan:

Ekspektasi suku bunga AS, yang memengaruhi likuiditas dan risiko pasar keuangan secara umum.

Ketegangan geopolitik, termasuk dampak konflik di Iran dan risiko spillover yang mendorong risiko “risk‑off” di pasar aset‑aset berisiko.

Selain itu, perkembangan regulasi seperti proses pembahasan CLARITY Act yang terkait struktur pasar kripto juga masih terhenti, sehingga industri belum mendapat katalis hukum jangka panjang yang jelas. Kondisi ini membuat kenaikan harga Bitcoin lebih mudah berbalik ketika sentimen makro atau regulasi berubah.

Potensi Koreksi dan Risiko Jangka Pendek

Polanya mirip dengan situasi yang muncul di awal bear market 2022, ketika naiknya permintaan futures berleverage tidak diiringi lonjakan permintaan spot, lalu diikuti oleh penurunan harga yang berkepanjangan. Moreno mengingatkan bahwa reli yang hanya bergantung pada leverage cenderung self‑limiting (terbatas secara internal): begitu posisi futures ditutup, tekanan jual bisa memicu koreksi.

Pada level teknis, Bitcoin sempat bergerak di bawah 79.500 dolar AS dengan pola “lower lows” di akhir April, meski masih berhasil naik kembali sedikit di awal Mei. Hal ini menunjukkan bahwa konsolidasi atau koreksi kecil masih sangat mungkin terjadi jika permintaan spot tidak segera menguat.

Next Post Previous Post