Grant Cardone Yakin Strategi Bitcoin–Real Estate Bakal Kalahkan REIT

Grant Cardone Yakin Strategi Bitcoin–Real Estate Bakal Kalahkan REIT

Real estate mogul Amerika Serikat, Grant Cardone, meyakini bahwa kombinasi investasi properti produksi arus kas dan penempatan bitcoin (BTC) di neraca perusahaan bisa mengungguli kinerja real estate investment trusts (REIT) konvensional. 

Dalam sesi Fireside Chat di Consensus Miami 2026, pemilik Cardone Capital ini mengungkap bahwa ia baru saja menambah 100 juta dolar AS dalam bitcoin ke casisnya, sebagai bagian dari strategi hybrid yang menggabungkan aset fisik dan aset digital itu.

Model Hybrid: Properti + Bitcoin

Cardone menjelaskan bahwa strategi utamanya adalah “menggabungkan dua aset dalam satu entitas”: satu porsi real estate produktif (misalnya apartemen multifamily senilai sekitar 235 juta dolar AS) dan satu porsi 100 juta dolar AS dalam bitcoin. Dengan struktur ini, perusahaan bisa menghasilkan arus kas rutin dari sewa sambil sekaligus mengambil eksposur jangka panjang terhadap pergerakan harga BTC.

Ia mengklaim bahwa kombinasi ini bisa menghasilkan target imbal hasil tahunan sekitar 22–32%, yang jauh di atas rata‑rata return REIT tradisional yang cenderung lebih stabil namun lebih rendah.

Dalam model Cardone Capital, sebagian pendapatan sewa dan manfaat pajak (seperti depresiasi) diarahkan untuk akumulasi bitcoin bertahap, sehingga arus kas properti menjadi “mesin” akumulasi crypto.

Knock‑down Terhadap REIT Tradisional

Grant Cardone menilai bahwa REIT tradisional memiliki batasan struktural karena tidak diizinkan secara hukum untuk memegang bitcoin atau aset kripto lain di neraca perusahaan. “Mereka tidak akan pernah bisa mengalokasikan bitcoin di balance sheet‑nya,” ujarnya, sambil menyebut bahwa justru inilah keunggulan kompetitif modelnya.

Ia menganggap REIT lama sebagai “tim yang tidak bisa berubah” karena regulasi, manajemen, dan struktur yang kaku, sehingga sulit mengejar peluang aset berbasis digital.

Dengan memadukan stabilitas arus kas properti dan potensi apresiasi eksponensial bitcoin, Cardone yakin modelnya bisa menjadi “alat keuangan baru” yang sulit direplikasi Wall Street.

Ukuran Bitcoin di “Neraca” Cardone Capital

Penambahan 100 juta dolar AS dalam bitcoin yang baru diumumkan ini merupakan kelanjutan dari pembelian sebelumnya pada 2025, ketika Cardone Capital membeli 1.000 BTC senilai lebih dari 100 juta dolar AS, sehingga total eksposur bitcoin perusahaan mendekati 200 juta dolar AS.

Beberapa laporan bahkan menyebut Cardone Capital menargetkan 3.000 BTC pada akhir 2026, dan secara jangka panjang membidik 10.000 BTC melalui beberapa dana hybrid berbeda.

Model ini meniru pendekatan “bitcoin treasury” yang kini populer di sejumlah perusahaan teknologi, tetapi diterapkan pada sektor properti yang jauh lebih konservatif.

Mengajak Investor Tradisional ke Dunia Crypto

Salah satu poin penting yang ditekankan Cardone adalah bahwa sekitar 80% investor di dana hybrid‑nya sebelumnya tidak pernah memegang bitcoin sama sekali. Tujuannya jelas: membawa investor properti tradisional masuk ke dunia kripto tanpa harus memaksa mereka membeli BTC secara langsung.

Mereka cukup berinvestasi dalam properti berbasis real estate, dan eksposur BTC datang “otomatis” melalui struktur dana yang disiapkan Cardone Capital.

Dengan begitu, investor bisa menikmati stabilitas dan tax benefit dari properti, sekaligus mendapatkan potensi upside jika harga BTC naik meski mereka tidak perlu memegang wallet sendiri.

Risiko dan Realita yang Harus Diwaspadai

Meski optimistis, Cardone juga mengakui bahwa strategi hybrid ini tidak bebas risiko. Properti tetap menghadapi risiko siklus pasar, kekosongan unit sewa, perubahan regulasi sewa, dan biaya operasional, sementara bitcoin tetap sangat volatil dan rentan terhadap tekanan regulasi global.

Ia menegaskan bahwa “jika bitcoin jatuh ke nol, saya tidak akan menjual properti”, menunjukkan bahwa real estate tetap menjadi anchor utama, sementara BTC adalah lapisan apresiasi tambahan.

Bagi investor, model ini bisa menarik sebagai cara diversifikasi antara aset fisik dan digital, tetapi tetap harus dilihat dengan analisis risiko yang matang, terutama soal ketergantungan pada harga BTC jangka panjang.

Next Post Previous Post