Rupiah Jadi Mata Uang yang Paling Lemah di Asia

Rupiah Jadi Mata Uang yang Paling Lemah di Asia
(Foto Kurs Dolar-Rupiah dari TradingView)

Rupiah semakin terpuruk dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah, menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Tekanan berulang ini menandakan bukan hanya gejolak global, melainkan masalah fundamental domestik.

Kondisi Terkini Rupiah

Pada Kamis (30 April 2026), rupiah melemah 0,12% menjadi Rp17.346 per dolar AS, level terendah baru sepanjang masa. Pelemahan ini melanjutkan tren sebelumnya, di mana rupiah sempat sentuh Rp17.310 pekan lalu akibat kenaikan harga minyak dan penguatan dolar. Di awal Mei, ada sedikit rebound ke Rp17.303, tapi volatilitas tetap tinggi.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Depresiasi rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, dan lonjakan harga minyak dunia. Secara regional, rupiah kalah saing dari hampir semua mata uang Asia, termasuk yuan China, baht Thailand, dan ringgit Malaysia, karena kompetisi nilai tukar yang ketat. Masalah struktural domestik memperburuk situasi, membuat rupiah tertinggal jauh dari tetangga ASEAN.

Perbandingan dengan Mata Uang Asia

Mata Uang

Pergerakan Terhadap Rupiah

Catatan

Yuan China

Menguat 0,16% baru-baru ini

Kerek oleh pemulihan ekonomi 

Baht Thailand

Menguat secara keseluruhan

Lebih baik dari rupiah sepanjang tahun

Ringgit Malaysia

Melemah tapi kurang dalam

Kalah dari rupiah di beberapa periode

Peso Filipina

Variatif, kadang tertekan

Sering ikut melemah tapi tidak seburuk rupiah

Won Korea Selatan

Penguatan signifikan

Naik 0,34% saat rupiah anjlok


Rupiah menunjukkan performa terburuk di Asia Tengah hingga Timur Tengah, seperti terhadap shekel Israel (-15,82%) dan som Uzbekistan (-11,71%).

Dampak dan Prospek

Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, termasuk minyak dan barang konsumsi, yang berpotensi picu inflasi. Bank Indonesia siap intervensi untuk stabilisasi, tapi prospek tetap bergantung dinamika global seperti geopolitik dan harga komoditas. Analis perkirakan volatilitas tinggi berlanjut pekan depan.

Next Post Previous Post