Saham GOTO Stagnan di Level Gocap pada 6 Mei 2026
Saham GOTO stagnan di level gocap pada 6 Mei 2026 setelah anjlok signifikan akibat tekanan regulasi dan aksi jual investor asing. Kondisi ini mencerminkan tantangan bagi emiten teknologi di tengah intervensi pemerintah terhadap model bisnis ride-hailing.
Kondisi Perdagangan Terkini
| (Foto Saham GOTO dari Aplikasi Stockbit) |
Penyebab Utama Penurunan
Penurunan dipicu pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada May Day (1/5/2026) yang menolak potongan aplikator ojol di atas 10%, menyebutnya tidak adil bagi driver yang "mempertaruhkan nyawa".
Pemerintah menerbitkan Perpres No. 27/2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online, membatasi potongan maksimal 8% dan menjamin 92% pendapatan untuk pengemudi. Hal ini memicu kekhawatiran investor soal margin keuntungan GoTo, ditambah net foreign sell Rp 172,79 miliar pada 4/5 dan total Rp 1,65 triliun YTD.
Respons GoTo dan Dampak
Direktur Utama Hans Patuwo menyatakan GoTo akan mematuhi regulasi sambil mengkaji implikasi, serta berkoordinasi dengan pemerintah untuk keberlanjutan bisnis. Meski Q1 2026 catat laba bersih Rp 171 miliar (dari rugi Rp 367 miliar YoY) dan EBITDA adjusted Rp 907 miliar, sentimen negatif mendominasi. Investor asing terus mengobral, memperburuk likuiditas saham di level gocap.
Prospek ke Depan
Analis melihat level gocap sebagai peluang beli jangka panjang dengan target kenaikan hingga 100% di 2026, didukung fundamental membaik. Namun, stagnasi berisiko berlanjut jika regulasi ride-hailing tidak jelas atau outflow asing tak terkendali. Investor disarankan pantau laporan Q2 dan respons GoTo terhadap Perpres untuk sinyal rebound.

