Big Banks Jadi Incaran Asing di Tengah Tekanan MSCI

Big Banks Jadi Incaran Asing di Tengah Tekanan MSCI

Investor asing kembali mengakumulasi saham bank-bank besar di tengah menyusutnya bobot Indonesia dalam MSCI, seiring pasar melihat valuasi emiten big banks makin menarik setelah koreksi. Aksi beli ini terjadi saat volatilitas indeks meningkat, sehingga saham berkapitalisasi besar yang likuid menjadi tujuan utama asing.

Asing buru big banks

Big Banks Jadi Incaran Asing di Tengah Tekanan MSCI
(Foto Saham BBCA dari Google Finansial)
Investor asing disebut paling banyak memburu saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Menurut laporan yang dirujuk, minat itu didorong oleh kombinasi fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, dan valuasi yang dianggap sudah lebih murah setelah tekanan pasar.

Di saat yang sama, pasar juga menyoroti efek dari rebalancing MSCI yang berpotensi menurunkan bobot Indonesia dalam indeks global. Sejumlah analis memperkirakan bobot Indonesia dapat susut dari kisaran 1,2% ke area 0,7%–0,8% atau lebih rendah, tergantung hasil evaluasi MSCI.

Peluang buy on dip

Kondisi ini mendorong strategi buy on dip di saham-saham unggulan, terutama ketika harga terkoreksi cukup dalam. Dalam laporan Bisnis.com, net buy asing di pasar saham Indonesia pada pekan lalu mencapai Rp12,26 triliun, menandakan ada minat beli yang tetap kuat di tengah sentimen negatif.

Analis melihat bahwa penurunan bobot MSCI memang bisa memicu tekanan jangka pendek, tetapi sekaligus menciptakan peluang akumulasi bagi investor yang fokus pada saham likuid dan fundamental solid. Karena itu, big banks kerap menjadi pilihan utama ketika pasar sedang bergejolak.

Implikasi untuk pasar

Bagi IHSG, arus beli asing pada saham-saham besar bisa membantu menahan tekanan, meski volatilitas masih tinggi. Namun, jika bobot Indonesia benar-benar turun signifikan di MSCI, potensi aliran dana keluar tetap perlu diwaspadai.

Dalam jangka pendek, pergerakan saham bank besar kemungkinan masih akan dipengaruhi dua hal: sentimen rebalancing MSCI dan minat akumulasi asing. Artinya, volatilitas bisa bertahan, tetapi saham-saham dengan kapitalisasi besar masih berpeluang menjadi penyangga utama pasar.

Next Post Previous Post