Goldman Sachs Naikkan Target Indeks Saham Negara Berkembang

 

Goldman Sachs Naikkan Target Indeks Saham Negara Berkembang

Bank investasi global Goldman Sachs resmi menaikkan target 12 bulan untuk indeks saham negara berkembang atau MSCI Emerging Markets Index. Target baru yang ditetapkan kini mencapai 2.000, naik dari target sebelumnya sebesar 1.850.

Alasan Kenaikan Target: Prospek Laba AI yang Semakin Kuat

Kenaikan target ini didorong oleh prospek pertumbuhan laba perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dinilai semakin kuat.

Goldman Sachs melihat bahwa perusahaan-perusahaan dalam indeks MSCI Emerging Markets yang bergerak di sektor AI memiliki potensi keuntungan yang meningkat signifikan.

Detail

Sebelum

Sesudah

Target MSCI Emerging Markets

1.850

2.000

Kenaikan

+150 poin


Kenaikan sebesar 150 poin ini mencerminkan optimisme Goldman Sachs terhadap kinerja pasar saham negara berkembang, terutama yang didorong oleh tren teknologi AI yang terus berkembang pesat di pasar emerging market seperti China dan negara-negara Asia lainnya.

Konteks Pasar Saham Global 2026

Goldman Sachs juga mengeluarkan pandangan positif terhadap pasar saham global secara keseluruhan pada 2026. Dalam laporan "Global Equity Strategy, 2026 Outlook: Tech Tonic" yang dirilis Desember 2025, bank investasi ini memperkirakan pasar saham memasuki fase bull market yang semakin melebar, didorong oleh:

Pertumbuhan laba perusahaan yang solid

Ekspansi ekonomi global yang berlanjut

Tren teknologi AI yang terus menggerakkan sektor teknologi

Meski demikian, Goldman Sachs warns bahwa potensi imbal hasil (return) di 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025.

Dampak Terhadap Pasar Negara Berkembang Termasuk Indonesia

Kenaikan target ini tentu memberikan sinyal positif bagi investor yang menaruh minat pada pasar negara berkembang. Namun, perlu dicatat bahwa Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eyes Goldman Sachs.

Pada Januari 2026, Goldman Sachs justru menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight akibat:

Masalah struktural terkait free float saham

Risiko arus keluar dana pasif (passive selling) dari investor global

Kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia

MSCI bahkan membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika masalah struktural ini tidak segera diperbaiki.

Next Post Previous Post