Agrinas Palma Reaktivasi Pabrik Biodiesel Rp 300 Miliar untuk Pasok B50

 

Agrinas Palma Reaktivasi Pabrik Biodiesel Rp 300 Miliar untuk Pasok B50

PT Agrinas Palma Nusantara berencana mengaktifkan kembali (reaktivasi) fasilitas produksi biodiesel di Rengat, Riau dengan nilai investasi sekitar Rp 300 miliar. Tujuannya, memperkuat pasokan bahan bakar nabati guna mendukung program mandatori B50 yang disiapkan pemerintah untuk diterapkan pada semester II tahun 2026.

Latar Belakang: Dari Program B30 Menuju B50

Indonesia telah lama menjalankan program biodiesel campuran, mulai dari B20 hingga B30, untuk mengurangi impor solar dan meningkatkan nilai tambah kelapa sawit. Kini, pemerintah menyiapkan langkah lebih besar: B50, yaitu biodiesel dengan kandungan 50% minyak nabati (dominan CPO) yang dicampur dengan diesel fosil.

Kementerian ESDM menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas produksi biodiesel agar siap menghadapi mandatori B50. Diperkirakan dibutuhkan sekitar lima pabrik biodiesel berkapasitas 1 juta kiloliter masing-masing untuk memenuhi target tersebut. Reaktivasi pabrik di Rengat merupakan salah satu upaya konkret untuk menutupi kebutuhan tersebut.

Skala dan Kapasitas Produksi Pabrik Rengat

Pabrik biodiesel yang akan diaktifkan kembali di Rengat diharapkan mampu memproduksi hingga 600 ribu ton Fatty Acid Methyl Ester (FAME) per tahun. FAME adalah komponen utama biodiesel yang dicampur dengan diesel fosil sesuai tingkat mandatori, baik B30, B40, maupun B50.

Dengan kapasitas sebesar itu, pabrik Rengat dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan biodiesel nasional, sekaligus memperkuat hulu industri kelapa sawit sebagai basis energi terbarukan. Investasi Rp 300 miliar mencakup biaya revitalisasi alat, peremajaan fasilitas, dan penyesuaian standar produksi sesuai kebutuhan pasar dan regulasi.

Kemitraan Strategis dengan Pertamina

Reaktivasi pabrik biodiesel ini dilakukan melalui kerja sama dengan PT Pertamina Power Indonesia, yang ditandai dengan penandatanganan MoU pada akhir Juni 2026. Fokus utama kerja sama meliputi:

Reaktivasi pabrik biodiesel (FAME) di Rengat, Riau.

Pembangunan dua unit pabrik bioetanol berbahan baku singkong, masing-masing berkapasitas 300 kiloliter per hari (KLPD), total 600 KLPD.

Berbagai inisiatif energi terbarukan lainnya yang disepakati bersama.

Dengan kapasitas bioetanol 600 KLPD, Agrinas Palma tidak hanya meningkatkan produksi biodiesel, tetapi juga mendorong diversifikasi energi terbarukan berbasis hasil pertanian dan perkebunan. Langkah ini sekaligus mendukung program swasembada pangan dan penciptaan nilai tambah bagi komoditas lokal.

Posisi Agrinas Palma dalam Strategi Energi Nasional

Agrinas Palma Nusantara resmi berdiri pada Februari 2025 sebagai BUMN yang mengelola lahan sawit skala besar, termasuk aset hasil sitaan kasus korupsi dan konsesi di wilayah Papua. Mandat perusahaan mencakup pengelolaan perkebunan, peningkatan produksi CPO, serta pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit.

Dalam jangka pendek, Agrinas Palma bertujuan mendukung produksi biodiesel B40 dan B50. Di masa depan, perusahaan diarahkan menuju tujuan lebih ambisius: B100, yaitu biodiesel 100% berbasis CPO tanpa campuran diesel fosil. Reaktivasi pabrik Rengat adalah salah satu langkah taktis untuk mewujudkan target tersebut.

Dampak bagi Ketahanan Energi dan Ekonomi

Dengan adanya pabrik biodiesel yang diaktifkan kembali, pemerintah berharap dapat:

Mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, terutama seiring keputusan menghentikan impor solar mulai tahun ini.

Meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit, sehingga membuka peluang lapangan kerja baru di sektor perkebunan dan industri pengolahan.

Memperkuat ketahanan energi nasional melalui sumber daya domestik yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Reaktivasi pabrik biodiesel di Rengat juga diharapkan menjadi contoh bagi pengembangan kawasan industri berbasis energi terbarukan di wilayah lain, termasuk Papua dan area Strategis Nasional lainnya.

Next Post Previous Post