AMMN 2026: Siklus Pertumbuhan Baru dengan Lonjakan Pendapatan 117%

AMMN 2026: Siklus Pertumbuhan Baru dengan Lonjakan Pendapatan 117%

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan memasuki siklus pertumbuhan kinerja baru pada 2026. Pendapatan AMMN diperkirakan naik 117% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh pemulihan produksi tambang Batu Hijau, pengembangan smelter, serta kondisi harga komoditas yang relatif kuat.

Mengapa AMMN Masuk Siklus Pertumbuhan Baru?

1. Pemulihan Produksi Tambang Batu Hijau

Produksi di Batu Hijau, salah satu aset utama AMMN, mulai kembali tumbuh signifikan setelah periode transisi menuju Phase 8. Pada 2026, produksi konsentrat tembaga diproyeksikan naik 124%, sementara produksi emas diperkirakan melonjak 565%. Peningkatan ini didorong oleh:

Kadar bijih (ore grade) yang lebih tinggi,

Penambahan lini konsentrator baru,

Optimalisasi penggunaan smelter tembaga berkapasitas besar.

2. Operasional Smelter yang Berkembang

Fasilitas peleburan (smelter) tembaga baru yang dimiliki AMMN mulai dimanfaatkan sekitar 80% pada 2026 dan diproyeksikan beroperasi penuh pada 2027. Hal ini meningkatkan penjualan produk hilir seperti katoda tembaga dan emas murni, yang memiliki margin lebih baik dibanding penjualan konsentrat.

3. Dukungan Harga Komoditas

Harga tembaga dan emas global yang relatif tinggi pada 2025–2026 memberikan dukungan terhadap pendapatan dan laba AMMN. Kombinasi antara kenaikan volume produksi dan harga komoditas yang kuat menciptakan momentum positif bagi kinerja perusahaan.

Proyeksi Pendapatan dan Laba

Pendapatan 2026

Berdasarkan berbagai riset sekuritas:

Pendapatan AMMN pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$ 3,79–4,04 miliar.

Angka ini berarti pertumbuhan 105–117% dari level 2025.

Laba Bersih dan EBITDA

Laba bersih 2026 diproyeksi naik menjadi US$ 806 juta hingga US$ 1,091 miliar, atau tumbuh 223% hingga lebih dari 300% dari 2025.

EBITDA diperkirakan mencapai US$ 1,94–2,04 miliar dengan margin mendekati 50%, menandakan peningkatan efisiensi dan profitabilitas.

Lonjakan ini terutama didorong oleh peningkatan volume produksi, pemanfaatan smelter yang lebih optimal, serta peningkatan penjualan produk hilir yang lebih bernilai tinggi.

Rekomendasi dan Target Harga Saham

AMMN 2026: Siklus Pertumbuhan Baru dengan Lonjakan Pendapatan 117%
(Foto Saham AMMN dari Google Finansial)
Mayoritas sekuritas memberikan rekomendasi beli (BUY) untuk saham AMMN dengan berbagai target harga:

BRI Danareksa Sekuritas: BUY, target Rp6.000 per saham, berbasis metode SOTP.

InvestorTrust: BUY, target Rp6.500 per saham, dengan upside lebih dari 100%.

Sucor Sekuritas: BUY, target Rp11.000 per saham, dengan proyeksi ROE 23% pada 2028.

Henan Sekuritas: BUY, target Rp9.550 per saham, didukung pemulihan produksi dan kapasitas smelter.

Analisis unabhängen (berdasarkan riset terbaru): BUY, target Rp11.000, dengan upside sekitar +125% dari harga sekitar Rp4.890.

Rentang target harga yang lebar menunjukkan perbedaan asumsi dalam proyeksi produksi, harga komoditas, dan metode valuasi, namun arah rekomendasi mayoritas tetap positif.

Risiko yang Perlu Dicermati

Meskipun prospek AMMN terlihat kuat, beberapa risiko perlu diperhatikan:

Harga komoditas global: Penurunan signifikan harga tembaga atau emas dapat menekan pendapatan dan laba.

Kendala operasional: Masalah teknis, cuaca ekstrem, atau kendala regulasi dapat mengganggu produksi tambang dan smelter.

Regulasi ekspor dan lingkungan: Perubahan kebijakan ekspor konsentrat atau persyaratan lingkungan dapat berdampak pada operasional perusahaan.

Volatilitas pasar saham: Harga saham AMMN tetap dapat bergejolak akibat sentimen pasar global dan domestik, termasuk faktor suku bunga dan arus modal internasional.

AMMN sedang memasuki fase pertumbuhan baru yang didukung oleh normalisasi produksi Batu Hijau, pemanfaatan smelter yang lebih optimal, serta kondisi harga komoditas yang mendukung. 

Dengan proyeksi pendapatan yang hampir dua kali lipat dan laba bersih yang melonjak drastis pada 2026, banyak analis menilai saham ini layak dibeli dengan potensi upside yang menarik. 

Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko komoditas, operasional, dan regulasi sebelum mengambil keputusan investasi.

 

Next Post Previous Post