Bitcoin Melemah, Tertekan Sinyal Hawkish The Fed dan Konflik AS-Iran
Harga Bitcoin kembali melemah dan bertahan di bawah tekanan sentimen global, seiring menguatnya sinyal hawkish dari Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pada perdagangan terakhir, Bitcoin turun ke level USD 63.000-64.000 setelah sempat menyentuh area di atas USD64.600 pada awal pekan.
Sentimen Pasar Memburuk
| (Foto Harga Bitcoin dari TradingView) |
Tekanan dari The Fed
Salah satu faktor utama yang menekan Bitcoin adalah ekspektasi bahwa The Fed belum akan cepat melonggarkan kebijakan moneternya. Sinyal hawkish tersebut membuat pasar memperkirakan suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama, sehingga minat terhadap aset spekulatif ikut menurun.
Efeknya terasa jelas pada aset kripto terbesar di dunia itu, yang sempat terkoreksi setelah sebelumnya bergerak di kisaran lebih tinggi. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin sering ikut bergerak searah dengan sentimen risiko global, bukan semata-mata berdasarkan faktor internal pasar kripto.
Dampak Konflik AS-Iran
Selain faktor The Fed, konflik AS-Iran juga menjadi katalis negatif yang memperburuk suasana pasar. Ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati, terutama ketika ada potensi eskalasi yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi dan keuangan global.
Riwayat pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa isu AS-Iran memang sering memicu tekanan pada harga kripto. Ketika tensi geopolitik meningkat, investor cenderung beralih ke aset yang dinilai lebih aman, sehingga Bitcoin kehilangan dorongan beli dalam jangka pendek.
Prospek Pergerakan Bitcoin
Dalam jangka pendek, Bitcoin masih berpeluang bergerak fluktuatif selama pasar menunggu kepastian arah kebijakan The Fed dan perkembangan hubungan AS-Iran. Selama dua faktor ini belum mereda, tekanan pada aset kripto kemungkinan tetap terasa.
Meski begitu, level USD64 ribuan masih menunjukkan bahwa Bitcoin belum masuk fase pelemahan ekstrem. Artinya, pasar masih memberi ruang bagi pemulihan jika sentimen global membaik dan tekanan makroekonomi mulai mereda.

