Daftar 51 Saham Masuk Kategori High Shareholding Concentration (HSC) BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi merilis daftar 51 saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan tinggi setelah merevisi metodologi penilaian.
Daftar ini merupakan penambahan dari sebelumnya yang hanya berisi 14 emiten, dengan 37 saham baru masuk akibat perubahan indikator price-impact ratio dalam penilaian HSC.
Apa itu Saham HSC?
Saham HSC adalah saham yang memiliki tingkat kepemilikan terkonsentrasi sangat tinggi oleh segelintir pihak, biasanya di atas 90–95% dari total saham beredar. BEI menerbitkan daftar ini untuk meningkatkan transparansi pasar dan membantu investor dalam menilai risiko likuiditas serta volatilitas harga.
Status HSC tidak otomatis berarti pelanggaran aturan free float, namun BEI mendorong emiten terkait untuk meningkatkan kepemilikan publik dan memperbaiki distribusi saham agar status HSC dapat dicabut.
Daftar Lengkap 51 Saham HSC (Juli 2026)
Berdasarkan informasi terbaru dari Juli 2026, total saham HSC mencapai 51 emiten. Dilansir dari WartaEkonomi, berikut adalah beberapa nama saham yang masuk dalam daftar lengkap (beberapa di antaranya sudah terkonfirmasi dari berbagai sumber):
PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
PT Bank Permata Tbk (BNLI)
PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
PT FAP Agri Tbk (FAPA)
PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
PT Siantar Top Tbk (STTP)
PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
PT MD Entertainment Tbk (FILM)
PT Pelayaran Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
PT Golden Flower Tbk (POLU)
PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
PT Bank Mega Tbk (MEGA)
PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
Sebelumnya, sudah ada 14 saham lainnya yang lebih dulu terkena cap HSC dalam kurun waktu April hingga awal Juli 2026, yaitu:
PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)
PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Implikasi bagi Investor
Likuiditas terbatas: Saham dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi cenderung lebih sedikit tangan yang memperjualbelikannya, sehingga risiko likuiditas bisa lebih tinggi.
Volatilitas harga: Pergerakan harga bisa lebih ekstrem karena sedikit transaksi yang cukup menggerakkan harga.
Perlu perhatian ekstra: Investor disarankan lebih aware terhadap struktur kepemilikan sebelum mengambil keputusan investasi di saham-saham HSC.

