Dirut PGAS Borong Saham Hampir Rp1 Miliar
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menjadi pusat perhatian di bursa karena dua hal sekaligus: penggantian Direktur Utama dan aksi pembelian saham. Salah satu yang paling menonjol adalah Arief Kurnia Risdianto, yang tak hanya resmi diangkat menjadi Direktur Utama PGAS, tetapi juga tercatat membeli saham PGAS senilai hampir Rp1 miliar.
Kombinasi antara rotasi kepemimpinan dan “beli sendiri” ini menarik perhatian investor karena keduanya umumnya dianggap sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan di masa depan.
Arief Kurnia Risdianto Resmi Jadi Direktur Utama PGAS
Arief Kurnia Risdianto ditunjuk sebagai Direktur Utama PT PGN (sebelumnya dikenal sebagai PT Perusahaan Gas Negara Tbk) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diadakan pada 27 Agustus 2025 di kantor PGN, Jakarta. Ia menggantikan posisi sebelumnya yang ditempati oleh Arief Setiawan Handoko (Arief Handoko) yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama PGAS.
Sebelum menduduki kursi Direktur Utama, Arief Kurnia Risdianto telah menjabat sebagai Direktur di lingkungan PGN, termasuk pernah memimpin divisi Manajemen Risiko. Pengalaman panjangnya di perusahaan gas negara ini diharapkan dapat memperkuat strategi bisnis PGAS dalam menghadapi dinamika pasar energi dan volatilitas ekonomi.
Arief Kurnia Risdianto Membeli Saham PGAS Hampir Rp1 Miliar
Selain mendapat jabatan strategis, Arief Kurnia Risdianto juga tercatat melakukan pembelian saham PGAS secara signifikan. Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Arief Kurnia membeli sejumlah saham PGAS dengan total nilai transaksi mendekati Rp1 miliar.
Meskipun rincian jumlah lembar saham dan harga per saham tidak secara eksplisit disebutkan dalam artikel IDNFinancials, aksi pembelian ini sejalan dengan pola sebelumnya di mana beberapa anggota direksi dan komisaris PGAS juga melakukan pembelian saham untuk keperluan investasi dan tantiem yang ditangguhkan.
Mengapa Pembelian Saham oleh Manajemen Penting?
Pembelian saham oleh Pimpinan Perusahaan (Direktur Utama, Direksi, Komisaris) sering dianggap sebagai sinyal positif karena:
Kepercayaan terhadap valuasi
Manajemen membeli di level harga tertentu, yang biasanya mereka pandang masih wajar atau bahkan undervalued dibandingkan potensi fundamental perusahaan.
Insentif jangka panjang
Dengan memiliki saham sendiri, manajemen cenderung lebih terdorong untuk meningkatkan kinerja perusahaan demi menunjang harga saham.
Sinyal untuk investor
Di pasar sekunder, aksi “big buyer” dari kalangan internal perusahaan dapat menarik minat investor institusi dan retail.
Implikasi bagi Saham PGAS dan Investor
| (Foto Saham PGAS dari Google Finansial) |

