Ekspor Tekstil Nasional Diproyeksikan Tumbuh Hingga 4 Persen Pada 2027

Ekspor Tekstil Nasional Diproyeksikan Tumbuh Hingga 4 Persen Pada 2027

Permintaan global terhadap produk hulu tekstil Indonesia, mulai dari benang, kain tenun, hingga kain rajut, menunjukkan pemulihan sepanjang 2025. Indonesia Eximbank Institute menilai tren ini menjadi sinyal positif bagi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional untuk kembali memperluas pasar ekspor di tengah persaingan ketat dengan China, India, dan Vietnam.

Berdasarkan proyeksi Indonesia Eximbank Institute, pertumbuhan ekspor tekstil Indonesia diperkirakan berada di kisaran 2 persen hingga 3,2 persen pada 2026. Angka itu lebih baik dibandingkan realisasi saat ini yang masih sekitar 1,3 persen. Pada 2027, pertumbuhannya diprediksi makin solid di rentang 3,5 persen hingga 4 persen.

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto, menyebut produk finished fabric masih mendominasi sekitar 74 persen dari total ekspor TPT Indonesia. Ia menegaskan bahwa daya saing ekspor tidak bisa bertumpu pada produsen garmen saja, melainkan harus ditopang ketahanan seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir.

Anton juga menekankan bahwa buyer global kini menilai lebih dari sekadar harga murah. Faktor kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material berkelanjutan ikut menjadi pertimbangan utama dalam pembelian.

Strategi LPEI

Untuk memperkuat daya saing industri, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menggelar LPEI Export Forum (LEF) di Bandung pada akhir Juli 2026. Forum ini mempertemukan pelaku industri tekstil dan garmen guna membahas strategi penetrasi pasar global dan penguatan rantai pasok nasional.

LPEI juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti pembiayaan pra-pengapalan dan pasca-pengapalan, penjaminan, Trade Credit Insurance (TCI), serta Marine Cargo Insurance. Dukungan ini ditujukan untuk menekan risiko ekspor sekaligus membantu eksportir lebih siap menghadapi kebutuhan pasar internasional.

Selain pembiayaan, LPEI juga menawarkan layanan advisory dan market insight agar pelaku usaha bisa membaca peluang pasar dengan lebih tepat. Pendekatan ini penting karena industri tekstil Indonesia tidak hanya dituntut mampu memproduksi, tetapi juga harus cepat beradaptasi dengan perubahan selera dan standar pasar global.

Testimoni Pelaku Usaha

Dukungan LPEI turut dirasakan langsung oleh pelaku industri, salah satunya PT Ungaran Sari Garments. Direktur Utama perusahaan tersebut, Maniwanen, mengatakan fasilitas LPEI membantu efisiensi operasional dan mengurangi risiko perdagangan dalam proses ekspor.

Menurutnya, fasilitas pembiayaan dan asuransi dari LPEI membuat perusahaan lebih percaya diri memperluas pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa akses pembiayaan yang tepat dapat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri tekstil yang padat karya dan sangat bergantung pada kelancaran perdagangan lintas negara.

Peluang ke Depan

Dengan struktur industri yang terintegrasi, biaya tenaga kerja yang relatif kompetitif, serta dukungan pembiayaan ekspor, Indonesia masih memiliki modal kuat untuk memperbesar pangsa pasar tekstil dunia. Meski begitu, tantangan berupa produktivitas, modernisasi mesin, dan tuntutan keberlanjutan lingkungan tetap harus dijawab secara serius.

Jika strategi penguatan rantai pasok dan peningkatan standar produksi berjalan konsisten, ekspor tekstil Indonesia berpeluang melaju lebih stabil dalam beberapa tahun ke depan. Kenaikan bertahap ini sekaligus menandakan bahwa industri TPT domestik masih punya ruang besar untuk tumbuh di pasar internasional.

 

Next Post Previous Post