GOTO Siap Umumkan Kinerja Kuartal II-2026
Harga saham GOTO masih bertahan di sekitar Rp 50 per saham di tengah sejumlah sentimen negatif yang menekan pasar. Analis MNC Sekuritas, Christian, menyatakan pelemahan saham selama beberapa bulan terakhir lebih didorong oleh faktor eksternal ketimbang perubahan fundamental perusahaan. Faktor-faktor tersebut meliputi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, potensi keluarnya GOTO dari indeks MSCI, dan perhatian terhadap kebijakan komisi ojek online (ojol) sebesar 8 persen.
Christian menekankan bahwa indikator operasional GOTO sejauh ini menunjukkan tren perbaikan, sehingga pergerakan harga saham belum sepenuhnya mencerminkan kondisi bisnis sebenarnya. "Pelemahan harga saham GOTO lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen pasar. Fundamental operasional perusahaan masih menunjukkan tren perbaikan sehingga pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi bisnis saat ini," ujarnya.
Poin penting yang menjadi fokus laporan kuartal II adalah efek kebijakan komisi ojol 8 persen. Menurut Christian, dampak kebijakan tersebut belum tercermin pada laporan April–Juni 2026 karena aturan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Dengan demikian, pengaruhnya kemungkinan besar baru mulai terlihat pada kuartal III 2026. Selain itu, kebijakan ini hanya berlaku untuk layanan transportasi roda dua penumpang (GoRide), sehingga pengaruhnya terhadap keseluruhan pendapatan GOTO dianggap terbatas.
GOTO sendiri telah mengalami diversifikasi pendapatan yang signifikan. Selain segmen ojek online (ODS), perusahaan memiliki bisnis pengiriman makanan dan barang serta layanan teknologi finansial melalui GoPay yang kini memberikan kontribusi semakin besar. Menurut Christian, diversifikasi ini menjadi penyangga penting sehingga tekanan pada satu segmen tidak otomatis mendorong penurunan kinerja grup secara keseluruhan.
Investor juga akan mencermati panduan (guidance) yang diberikan manajemen dalam laporan nanti. Fokus utama pasar diperkirakan pada estimasi dampak kebijakan komisi ojol 8 persen terhadap kinerja paruh kedua 2026 serta langkah konkret manajemen untuk mempertahankan profitabilitas. Pilihan strategi yang bisa diumumkan antara lain efisiensi biaya, penyesuaian skema insentif mitra pengemudi, dan upaya monetisasi lebih agresif di lini layanan delivery dan fintech.
Sebagai catatan, capaian laba bersih Rp 171 miliar pada kuartal I 2026 menandai tonggak sejarah bagi GOTO setelah periode panjang berfokus pada pertumbuhan dan investasi. Keberlanjutan profitabilitas akan menjadi bukti lebih lanjut bahwa transformasi bisnis perusahaan berjalan efektif.
Dengan publikasi laporan kuartal II, pelaku pasar akan mengukur apakah GOTO mampu mempertahankan atau meningkatkan kinerja yang mulai menguningkan hasil positif di kuartal sebelumnya, sekaligus menilai kesiapan manajemen menanggapi perubahan regulasi dan tekanan sentimen eksternal.

