Harga BBM Hari Ini, Rabu 8 Juli 2026: Daftar Lengkap Pertamax, Pertalite, dan BBM Lainnya
Harga BBM di SPBU Pertamina hari ini, Rabu 8 Juli 2026, relatif stabil setelah penyesuaian penurunan yang berlaku sejak 1 Juli 2026. Sebagian jenis BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX mengalami penurunan harga, sementara BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi tetap di level sebelumnya.
Bagi pengguna kendaraan, update harga ini penting untuk menghitung biaya operasional harian, terutama bagi pemilik kendaraan yang bergantung pada BBM nonsubsidi. Berikut adalah daftar lengkap harga BBM Pertamina per 8 Juli 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Perubahan Harga BBM Pertamini 1–8 Juli 2026
Sejak 1 Juli 2026, Pertamina resmi menurunkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi. Penyesuaian ini berlaku hingga 8 Juli 2026 tanpa perubahan tambahan, sehingga harga di hari ini sama dengan harga yang diterapkan awal bulan Juli.
Jenis BBM yang turun harganya meliputi:
Pertamax Turbo: turun hingga Rp1.450 per liter di Jawa Barat, dari Rp20.750 menjadi Rp19.300.
Pertamina Dex: turun Rp3.650 per liter, dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 di DKI Jakarta dan kawasan Jawa.
Dexlite: turun Rp3.300 per liter, dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 di wilayah Jawa.
Sementara itu, harga BBM berikut tidak berubah sejak 10 Juni 2026:
Pertamax: tetap Rp16.250 per liter (DKI Jakarta dan Jawa).
Pertamax Green 95: tetap Rp17.000 per liter.
Pertalite: tetap Rp10.000 per liter (BBM subsidi).
Solar subsidi: tetap Rp6.800 per liter.
Harga aktual dan real-time, cek melalui aplikasi MyPertamina.
Daftar Harga BBM Pertamina 8 Juli 2026 di DKI Jakarta dan Jawa
Wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur menerapkan harga berikut per 8 Juli 2026:
|
Jenis BBM |
Harga per Liter |
|
Pertamax |
Rp16.250 |
|
Pertamax Turbo |
Rp19.300 |
|
Pertamax Green 95 |
Rp17.000 |
|
Dexlite |
Rp19.700 |
|
Pertamina Dex |
Rp21.150 |
|
Pertalite |
Rp10.000 |
|
Solar subsidi |
Rp6.800 |
Harga ini berlaku di SPBU Pertamina resmi dan tidak termasuk potensi perbedaan harga di toko BBM swasta atau platform e-commerce yang mungkin menawarkan harga sedikit berbeda.
Harga BBM di Wilayah Sumatera dan Aceh
Beberapa provinsi di Sumatera dan Aceh memiliki harga sedikit lebih tinggi karena faktor logistik dan jarak pengiriman. Berikut rincian per 8 Juli 2026:
Aceh, Sumut, Jambi, Bengkulu, Sulsel, Bangka Belitung, Lampung
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Pertalite: Rp10.000
Solar subsidi: Rp6.800
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Dexlite: Rp20.550
Pertamina Dex: Rp22.100
Pertalite: Rp10.000
Solar subsidi: Rp6.800
Harga BBM di Kawasan Free Trade Zone (FTZ)
Kawasan FTZ seperti Sabang dan Batam mendapat harga lebih murah karena kebijakan wilayah perdagangan bebas.
FTZ Sabang
Pertamax: Rp15.250
Dexlite: Rp18.450–Rp21.550 (tergantung sumber)
Pertalite: Rp10.000
Solar subsidi: Rp6.800
FTZ Batam
Pertamax: Rp15.500
Pertamax Turbo: Rp18.350
Pertamina Dex: Rp20.100
Dexlite: Rp18.700
Pertalite: Rp10.000
Solar subsidi: Rp6.800
Harga Avtur di Bandara Soekarno–Hatta
Selain BBM kendaraan, Pertamina juga menurunkan harga avtur di Bandara Soekarno–Hatta per 1 Juli 2026:
Dari Rp22.190 per liter menjadi Rp19.190 per liter.
Penurunan ini diharapkan dapat mengurangi biaya operasional penerbangan dan berpotensi berdampak pada harga tiket pesawat di masa mendatang.
Dampak Penurunan Harga BBM bagi Konsumen
Penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex memberikan beberapa dampak positif:
Membantu meringankan beban biaya operasional kendaraan, terutama bagi pemilik kendaraan premium dan truk.
Memberikan ruang lebih bagi konsumen untuk mengalokasikan anggaran ke sektor lain seperti konsumsi atau investasi.
Menambah daya tarik BBM Pertamina dibandingkan alternatif non-Pertamina yang harga tertentu bisa lebih fluktuatif.
Namun, karena BBM subsidi (Pertalite dan Solar) tidak berubah, dampak bagi pengguna kendaraan ekonomis menengah–kecil tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya ketika ada kenaikan harga Pertalite.

