Harga Bitcoin Turun Hingga 2%, Investor Menanti Data Inflasi AS

Harga Bitcoin Turun Hingga 2%, Investor Menanti Data Inflasi AS
Harga Bitcoin (BTC) terbaru tercatat turun lebih dari 2% dalam 24 jam, menyusul keputusan investor yang menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) sebagai katalis utama pasar. 

Penurunan ini terjadi karena mayoritas pelaku pasar cenderung wait and see terlebih dahulu sebelum mengambil posisi baru, terutama terkait arah kebijakan moneter The Fed di masa depan.

Pasar Kripto Menjelang Data Inflasi AS

Harga Bitcoin Turun Hingga 2%, Investor Menanti Data Inflasi AS
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Dalam kurun 24 jam, harga BTC tercatat turun 2,22%, sementara tiga hari terakhir menunjukkan tren koreksi yang lebih panjang.

Penurunan Bitcoin belakangan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor teknikal, tetapi juga tekanan makroekonomi. Investor kripto mulai mengurangi eksposur risiko menjelang rilis Consumer Price Index (CPI) AS yang akan memberikan gambaran lebih jelas tentang inflasi. 

Data inflasi menjadi penentu penting apakah The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi atau mulai melakukan pelonggaran kebijakan di masa mendatang.

Analisis Teknis Bitcoin Hari Ini

Berdasarkan cakupan teknikal, Bitcoin diperkirakan masih berada dalam rentang konsolidasi di antara:

Support: USD 62.000

Resistance: USD 61.000

Jika data inflasi AS menunjukkan hasil lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin berpotensi kembali menguji level resistance USD 61.000 dan melanjutkan reli. Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi, tekanan jual dapat memperluas penurunan hingga mendekati support USD 61.000 bahkan lebih rendah ).

Arah pergerakan aset ini sangat bergantung pada sentimen pasca-rilis inflasi AS, yang bisa menjadi katalis utama bagi pasar kripto dalam jangka pendek.

Sentimen Investor dan Strategi Trading

Saat ini, sentimen pasar kripto cenderung wait and see. Investor lebih memilih menahan posisi sambil menunggu kepastian data inflasi AS sebelum kembali mengambil risiko. Beberapa strategi yang bisa diterapkan adalah:

Menunggu konfirmasi breakout

Setelah rilis data inflasi, trader bisa menunggu konfirmasi breakout dari rentang USD 64.000–68.000 sebelum masuk posisi baru.

Mengelola risiko dengan ketat

Volatilitas akan meningkat saat data dirilis, sehingga penggunaan stop-loss dan pengelolaan ukuran posisi sangat penting.

Memanfaatkan peluang short-term

Jika data inflasi lebih rendah, trader bisa memanfaatkan rebound jangka pendek di level resistance terdekat. Sebaliknya, jika inflasi tinggi, peluang short kepada support terdekat bisa dipertimbangkan.

Dampak Inflasi AS terhadap Bitcoin dan Aset Kripto

Bitcoin sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap kebijakan moneter AS. Inflasi yang tinggi umumnya mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, yang:

Meningkatkan imbal hasil obligasi AS,

Mengurangi daya tarik aset berisiko seperti kripto,

Mendorong investor ke aset safe haven seperti USD dan obligasi.

Data inflasi periode Desember 2025 yang dirilis sebelumnya menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan dan 2,7% tahunan, di mana inflasi inti tetap terkendali di 2,6%. 

Jika rilis data terbaru menunjukkan tren inflasi yang lebih moderat, pasar kripto bisa kembali menerima aliran dana. Namun, jika inflasi lebih tinggi, Bitcoin dan altcoin berpotensi melanjutkan koreksi.

Next Post Previous Post