Indonesia Siapkan Strategi Konversi Surplus Solar B50 Jadi Avtur
Pemerintah Indonesia merencanakan pengalihan surplus solar sebesar 3–4 juta kiloliter hasil implementasi program biodiesel B50 untuk dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan (avtur).
Langkah strategis ini membutuhkan perubahan operasi kilang, optimalisasi unit pemecah molekul, dan pemurnian tambahan agar produk memenuhi standar Jet A-1, demikian laporan Bloomberg Technoz pada Senin (20/7/2026).
Teknik konversi: bukan proses ulang produk jadi
Pakar Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menegaskan bahwa konversi solar ke avtur tidak dilakukan dengan memproses ulang produk solar cair yang sudah jadi.
Secara teknis, avtur memiliki titik didih lebih rendah (150°C–250°C) dibanding solar (250°C–350°C), sehingga solusi yang memungkinkan adalah perubahan mode operasi kilang—dikenal sebagai swing operation atau recutting dan modifikasi profil perengkahan.
"Tidak mengubah produk solar cair yang sudah jadi kembali menjadi avtur. Yang dilakukan Pertamina adalah mengubah mode operasi kilang, swing operation, atau recutting, dan memodifikasi profil perengkahan," ujar Yayan saat dihubungi pada Senin (20/7/2026).
Tiga langkah utama di kilang
Untuk mewujudkan pergeseran fraksi menjadi lebih banyak avtur, ada tiga penyesuaian teknis penting:
Menggeser titik potong suhu pada Crude Distillation Unit (CDU) untuk memaksimalkan fraksi kerosene.
Optimalisasi unit hydrocracker untuk memecah molekul berat menjadi fraksi yang lebih ringan, termasuk kerosene.
Pemurnian di Kerosene Hydrotreating Unit (Kero-HTU) agar produk akhir memenuhi spesifikasi internasional Jet A-1.
Dukungan infrastruktur dan estimasi biaya
Praktisi senior migas dan perwakilan IATMI, Hadi Ismoyo, menyatakan bahwa konversi tersebut mungkin dilakukan secara teoritis melalui pengolahan tahap lanjut, namun membutuhkan kilang modern dan investasi infrastruktur. Proyek RDMP Balikpapan dan Cilacap disebut sebagai contoh fasilitas yang mampu mengatur kolom distilasi untuk menghasilkan fraksi avtur lebih dominan.
"Hanya dengan fasilitas yang memadai dan pemilihan bahan baku yang tepat proses ini dapat berjalan. Estimasi kasar untuk modifikasi kolom refraksi bervariasi sekitar US$15 juta (sekitar Rp240 miliar)," ujar Hadi.
Target produksi avtur dan pengurangan impor
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi adanya potensi surplus solar 3–4 juta kiloliter pasca-B50, dan menyatakan pemerintah berencana memproyeksikan kebutuhan avtur dari surplus tersebut untuk menekan impor.
Kementerian ESDM bersama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tengah menyusun roadmap pengembangan avtur, dengan target pengerjaan fisik pabrik pengolahan dimulai akhir 2026.
"Tahap berikutnya, kita akan mendorong pembangunan pabrik avtur karena bahan baku avtur itu hampir sama dengan solar. Tujuannya adalah kita akan mencoba untuk tidak lagi melakukan impor avtur," kata Bahlil setelah peresmian B50 di Karawang pada 9 Juli 2026.
Dampak ekonomi dan pasar
Penurunan impor: Jika berhasil, produksi avtur domestik dapat mengurangi ketergantungan impor avtur dan menekan defisit neraca perdagangan energi.
Biaya investasi: Modifikasi kilang dan pembangunan fasilitas pemrosesan lanjut memerlukan investasi besar; estimasi awal mencapai puluhan juta dolar per unit modifikasi.
Harga dan pasokan: Perubahan profil produksi kilang perlu diimbangi dengan permintaan BBM lain (mis. diesel untuk sektor transportasi), sehingga manajemen pasokan domestik menjadi krusial.

