Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 30 Juta, Data Terbaru OJK 2026
Indonesia mencatat capaian baru dalam sejarah pasar modal. Jumlah investor pasar modal, yang diukur dari Single Investor Identification (SID), telah melampaui 30 juta orang pada pertengahan 2026. Lonjakan ini menunjukkan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak lagi hanya menjadi arena institusi besar, melainkan ruang investasi massal bagi masyarakat umum, terutama generasi muda.
Pertumbuhan dari 3,8 juta investor di 2020 hingga lebih dari 30 juta di 2026 menandakan perubahan budaya investasi yang signifikan. Artikel ini membahas data terbaru OJK, proyeksi tren, serta implikasi bagi investor pemula dan pelaku pasar.
Pertumbuhan Eksponensial Jumlah Investor Pasar Modal
Dari 3,8 Juta ke 30 Juta dalam Kurang dari 6 Tahun
Data OJK dan BEI menunjukkan pertumbuhan yang hampir eksponensial:
2020: sekitar 3,8 juta investor.
2024: 14,87 juta investor.
Akhir 2025: 20,36 juta investor.
April 2026: 26,12 juta investor.
Juni 2026: 28,96 juta investor.
Pertengahan 2026: telah tembus 30 juta investor.
Artinya, dalam kurang dari enam tahun, jumlah investor pasar modal meningkat hampir 8 kali lipat dari level 2020.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Pada 2024, pertumbuhan investor mencapai 21,77% dibandingkan 2023.
Pada 2025, pertumbuhan mencapai 36,95% dari 2024, dengan total 20,36 juta investor.
Di 2026, pertumbuhan masih sangat kuat: 702 ribu investor baru di awal tahun, membawanya ke level 21,07 juta.
Tren ini menunjukkan bahwa momentum edukasi dan digitalisasi pasar modal masih sangat kuat di Indonesia.
Dominasi Investor Muda dan Ritel Domestik
Investor di Bawah 30 Tahun Mendominasi
Sekitar 54–55% investor pasar modal Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Artinya, lebih dari setengah partisipan bursa adalah generasi muda, termasuk milenial dan generasi Z. Ini mengubah profil pasar dari yang sebelumnya didominasi investor institusi dan kalangan finansial berpengalaman.
Dari sisi media informasi, lebih dari 75% responden memilih media sosial sebagai sumber utama informasi pasar modal. Khusus kalangan milenial dan Z, sekitar 78,97% mengandalkan media sosial untuk mencari informasi soal saham.
Peran Investor Ritel yang Semakin Besar
Investor ritel domestik kini menjadi pemain utama dalam aktivitas transaksi:
Pada Juni 2025, investor ritel contribution mencapai sekitar 44% dari total transaksi.
Investor ritel juga menguasai sekitar 50% dari total aktivitas transaksi sepanjang 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham semakin “humanis” dan terhubung langsung dengan keputusan finansial masyarakat biasa.
Mengapa Pertumbuhan Investor Sangat Cepat?
1. Digitalisasi dan Kemudahan Akses Rekening Saham
Platform pembukaan rekening saham dan reksa dana kini bisa dilakukan sepenuhnya online, bahkan lewat aplikasi mobile. Investor tidak perlu lagi datang ke kantor sekuritas atau bank, sehingga proses menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
2. Program Investasi Terencana untuk Pemula
Program seperti PINTAR reksa dana dirancang untuk memudahkan investor pemula yang ingin mulai investasi secara berkala dengan nominal kecil. Program ini menurunkan “biaya psikologis” bagi orang yang merasa belum punya cukup uang untuk investasi.
3. Perubahan Persepsi Generasi Muda
Saham dan reksa dana kini dianggap sebagai instrumen untuk membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar “pangan bagi orang kaya”. Generasi muda lebih terbuka terhadap risiko investasi dan ingin memiliki kontrol atas portofolio pribadi.
4. Konten Finansial di Media Sosial
Banyak edukator, analis, dan komunitas saham aktif membagikan insight pasar modal melalui konten video, artikel, dan live streaming. Informasi menjadi lebih terjangkau dan mudah dipahami, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk mulai mencoba investasi.

