Kemenkes Gandeng Perusahaan Biofarmasi Jepang, Takeda Investasi untuk Bangun Ekosistem Plasma Pertama di Asia Tenggara

Kemenkes Gandeng Perusahaan Biofarmasi Jepang, Takeda Investasi untuk Bangun Ekosistem Plasma Pertama di Asia Tenggara

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda, untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.

Penandatanganan kerja sama ini ditandai dengan pemberian izin fraksionasi plasma oleh Kementerian Kesehatan kepada Takeda, sekaligus menjadi inisiatif pembangunan ekosistem plasma hulu-hilir pertama di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kemitraan strategis ini merupakan langkah konkret pemerintah untuk memastikan kemandirian dan akses berkelanjutan terhadap terapi esensial bagi masyarakat. 

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. 

Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan," ujar Budi melalui siaran pers yang diberikan di Jakarta (13/7).

Investasi awal dan rencana pembangunan

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp539 miliar) untuk tahap pengembangan awal selama dua tahun. 

Dana ini dialokasikan untuk membangun beberapa bank plasma di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda. 

Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam proses penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda, dengan komitmen mengutamakan kebutuhan domestik.

Secara paralel, Takeda juga sedang mengkaji pemenuhan regulasi untuk membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di dalam negeri. Jika terealisasi, fasilitas ini diharapkan meningkatkan kapasitas produksi serta transfer teknologi bagi industri farmasi nasional.

Menjawab tantangan akses terapi di ASEAN

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Indonesia dan sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis (underdiagnosis) serta terbatasnya kesadaran masyarakat akan kondisi medis yang membutuhkan produk turunan plasma. 

Dengan tersedianya ekosistem hulu-hilir, diharapkan ketersediaan terapi esensial akan lebih merata dan respons terhadap kebutuhan pasien dapat diperkuat.

Kolaborasi lintas sektor dan manfaat ekonomi

Kemitraan strategis ini melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyatakan kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang yang membawa peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Dukungan dari pihak Takeda

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menyambut baik perluasan kerja sama ini. Ia menyebutkan bahwa Takeda berkomitmen untuk memanfaatkan keahlian globalnya dalam sains plasma guna mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia, termasuk membuka lapangan kerja baru berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal.

Implikasi bagi pasien dan sistem kesehatan

Dengan dibangunnya bank plasma dan potensi fasilitas manufaktur lokal, pasien yang membutuhkan terapi turunan plasma seperti immunoglobulin, faktor koagulasi, dan produk turunan lainnya—berpeluang memperoleh akses yang lebih cepat dan andal. 

Selain itu, pembangunan ekosistem ini dapat memperkuat kemampuan nasional untuk merespons krisis pasokan global serta mendukung kemandirian sektor kesehatan dalam jangka panjang. 

Next Post Previous Post