Laba Bersih PGEO Melonjak 15 Persen Pada Semester I 2026
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 15,48 persen secara tahunan pada semester I-2026 menjadi US$79,61 juta atau sekitar Rp1,42 triliun. Capaian ini dilaporkan Bloombergtechnoz pada Rabu (29/7/2026).
Pertumbuhan kinerja keuangan emiten energi terbarukan tersebut ditopang oleh lonjakan laba bersih pada kuartal I-2026 yang mencapai 81,33 persen secara tahunan. Kenaikan laba itu sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan sebesar 14,7 persen menjadi US$204,85 juta.
Dari sisi operasional, total produksi PGE sepanjang semester I-2026 tercatat mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh). Angka tersebut naik 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 2.416 GWh.
Manajemen menilai pencapaian kinerja keuangan dan operasional pada periode ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan energi hijau di Indonesia.
“Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat.
Pemerintah menargetkan porsi energi baru terbarukan (EBT) mencapai 76 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN periode 2025–2034. Dalam rencana itu, sektor panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas 5,2 gigawatt (GW).
PGEO sendiri memproyeksikan kapasitas terpasang perseroan dapat mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033.
“Saat ini, kami mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah,” kata Fransetya.
Ia menambahkan, PGEO saat ini menguasai sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, sehingga menjadi salah satu pilar penting dalam sistem kelistrikan Indonesia.
“Dengan mengelola sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGEO menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyoroti perjalanan panjang perusahaan dalam pengembangan panas bumi sebagai energi andal pembawa beban puncak atau baseload di Indonesia.
“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami,” kata Ahmad Yani.
“Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri,” imbuhnya.

