Laba Shell Naik US$9,8 Miliar di Kuartal II-2026
Laba Shell Melonjak Tajam
Mengutip Bloombergtechnoz pada Kamis (30/7/2026), Shell mencatat laba bersih yang disesuaikan sebesar US$9,8 miliar. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi rekor laba kuartalan tertinggi Shell sejak awal 2023.
Hasil tersebut juga melampaui perkiraan rata-rata analis yang dihimpun Bloomberg sebesar US$8,7 miliar. Sejalan dengan pencapaian itu, Shell tetap melanjutkan program pembelian kembali saham kuartalan senilai US$3 miliar.
Konflik Timur Tengah Dorong Margin
Lonjakan laba Shell tidak lepas dari ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Eskalasi konflik memicu gangguan pasokan minyak global, mendorong harga bahan bakar naik lebih cepat dibandingkan harga minyak mentah, sehingga margin keuntungan pelaku industri energi ikut terkerek.
Situasi ini juga membuat aktivitas perdagangan energi perusahaan-perusahaan besar Eropa menjadi lebih menguntungkan. Di tengah volatilitas pasar, perusahaan yang memiliki eksposur kuat pada perdagangan dan pengolahan minyak justru bisa memetik manfaat dari kenaikan harga dan perubahan arus pasokan.
Dampak Selat Hormuz
Sepanjang kuartal ini, pasar energi global juga diwarnai volatilitas tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz. Jalur pengiriman minyak dan gas yang vital itu terdampak pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi dunia.
Shell sendiri melaporkan penurunan produksi sekitar 30% pada divisi gas terintegrasinya dibandingkan kuartal II tahun lalu. Penurunan itu terutama dipicu gangguan operasional di Qatar, yang turut menekan volume produksi salah satu bisnis LNG terbesar Shell.
Apa Artinya bagi Pasar
Kinerja Shell menunjukkan bahwa perusahaan minyak dan gas besar masih bisa memperoleh keuntungan besar saat pasar energi bergejolak, selama mereka memiliki bisnis kilang dan perdagangan yang kuat. Namun, kondisi ini juga menegaskan bahwa laba sektor energi sangat dipengaruhi faktor geopolitik yang sulit diprediksi.
Bagi investor, hasil Shell menjadi sinyal bahwa volatilitas harga energi masih bisa menciptakan peluang keuntungan, tetapi sekaligus membawa risiko operasional yang signifikan. Jika konflik di Timur Tengah berlanjut, pasar minyak dan gas diperkirakan tetap bergerak liar dalam waktu dekat.

