Minat Kripto Kembali Menguat, Saran Para Ahli untuk Pemula
Minat masyarakat terhadap investasi aset kripto kembali meningkat, terutama di tengah dinamika harga yang menunjukkan tren positif pada beberapa aset utama. Dalam kondisi ini, para ahli dan pelaku industri menyarankan agar pemula yang baru ingin terjun ke dunia kripto sebaiknya memulai dari Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sebagai fondasi portofolio mereka.
Latar Belakang: Mengapa Minat Kripto Kini Meningkat
| (Foto Harga Bitcoin dari TradingView) |
Rekomendasi Utama untuk Pemula: Bitcoin dan Ethereum
1. Bitcoin sebagai “aset inti”
Bitcoin dianggap sebagai aset kripto paling stabil dibandingkan banyak altcoin, dengan kapitalisasi pasar terbesar dan adopsi yang paling luas. Banyak pakar menyarankan bahwa sekitar 70–80% portofolio pemula sebaiknya terdiri dari Bitcoin dan Ethereum, karena keduanya memiliki fundamental yang kuat, ekosistem yang besar, dan sejarah pergerakan yang lebih teruji.
2. Ethereum sebagai fondasi teknologi
Ethereum tidak hanya sekadar “koin kedua setelah Bitcoin”, tetapi juga pondasi bagi banyak aplikasi blockchain, seperti DeFi, NFT, dan smart contract lainnya. Membeli Ethereum berarti ikut berinvestasi pada ekosistem yang lebih luas, sehingga cocok sebagai bagian inti dari portofolio jangka panjang pemula.
3. Kombinasi dengan stablecoin untuk mengurangi risiko
Beberapa ahli juga menyarankan penambahan stablecoin seperti USDT atau USDC sebagai bagian portofolio (misalnya 10–20%) untuk menjaga fleksibilitas dan mengurangi risiko ketika pasar sangat volatil. Dengan demikian, pemula bisa tetap memiliki “cadangan” yang stabil untuk buysell opportunity atau antisipasi turun harga.
Strategi Investasi yang Lebih Aman untuk Pemula
a. Gunakan alokasi portofolio sederhana
Contoh alokasi yang sering disarankan:
50–70% Bitcoin
20–30% Ethereum
10–20% stablecoin (USDT/USDC) atau sebagian kecil altcoin fundamental kuat
Dengan skema ini, pemula tidak terlalu bergantung pada satu aset saja, tapi tetap memiliki fokus pada dua aset utama.
b. Metode DCA (Dollar Cost Averaging)
Daripada mencoba “tebak” waktu terbaik untuk membeli, pemula lebih disarankan menerapkan DCA: membeli rutin setiap minggu atau bulan dengan jumlah kecil. Strategi ini membantu mengurangi risiko beli di harga puncak dan lebih konsisten dalam jangka panjang.
c. Hanya investasikan uang yang rela hilang
Langkah paling penting: jangan menggunakan uang darurat, uang kebutuhan sehari-hari, atau dana yang akan segera dipakai. Alokasikan hanya sebagian kecil dari investasi (misalnya 10–20% dari total alokasi investasi) untuk kripto, sementara sisanya di instrumen yang lebih stabil.
d. Simpan di dompet aman, bukan hanya di exchange
Setelah membeli, disarankan menyimpan aset kripto di dompet pribadi (hardware wallet atau software wallet yang terpercaya) untuk mengurangi risiko jika platform perdagangan mengalami masalah. Ini merupakan bagian dari prinsip “not your keys, not your coins” yang sering dipegang investor kripto berpengalaman.
Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mulai
Gunakan platform resmi – Pastikan memilih aplikasi atau exchange yang sudah berizin dan diawasi oleh regulator di Indonesia (Bappebti). Hindari platform yang tidak jelas izinnya.
Pelajari dasar analisis – Jangan hanya ikut rekomendasi influencer atau tren sosial media. Pelajari dasar analisis fundamental (team, teknologi, use case) dan analisis teknikal sederhana.
Kendalikan emosi dan FOMO – Saat harga naik, investor baru sering terpancing FOMO (fear of missing out) dan membeli di harga tinggi. Disarankan tetap berpedoman pada rencana investasi yang sudah dibuat sebelumnya.
Fokus pada proyek besar dan jelas – Jika ingin mencoba altcoin, pilih proyek yang sudah dikenal, punya ekosistem besar, dan fundamental kuat (seperti top-20 atau indeks kripto), bukan koin yang hanya mengikuti tren sesaat.

