MRT Jakarta Tembus Terowongan Jalur Utara Fase 2A
Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A telah memasuki fase krusial dengan keberhasilan menembus terowongan bawah tanah di segmen Harmoni–Mangga Besar (CP202), yang merupakan bagian penting dari jalur utara–selatan yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota.
Pada Juni 2026, progres keseluruhan konstruksi Fase 2A telah mencapai lebih dari 60 persen, dengan target operasional segmen 2 (Harmoni–Kota) pada akhir 2029.
Latar Belakang Proyek Fase 2A
Fase 2A MRT Jakarta merupakan lanjutan dari Fase 1 yang sudah beroperasi sejak 24 Maret 2019. Jalur ini membentang sepanjang sekitar 5,8 km dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota, dengan tujuh stasiun bawah tanah: Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Proyek ini dibagi menjadi dua segmen:
Segmen 1: Bundaran HI–Harmoni
Target beroperasi: akhir 2027
Segmen 2: Harmoni–Kota
Target beroperasi: akhir 2029
Total investasi Fase 2A mencapai Rp25,3 triliun, yang diperoleh dari pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Tembus Terowongan CP202: Harmoni–Mangga Besar
Paket kontraktual CP202 (Harmoni–Mangga Besar) merupakan salah satu bagian paling rumit dalam pembangunan Fase 2A. Panjang terowongan ini sekitar 1,195–1,8 km dan telah memakan waktu pengerjaan hingga tiga tahun sejak memulai pekerjaan awal.
Pada Mei 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan peluncuran Tunnel Boring Machine (TBM) 1 untuk proyek terowongan CP202, yang menghubungkan Harmoni hingga Mangga Besar, sekaligus menandai dimulainya pembangunan terowongan bawah tanah fase 2 secara resmi.
Pekerjaan konstruksi CP202 mencakup:
Pembentukan stasiun bawah tanah empat tingkat pertama di Indonesia (terutama di area Harmoni).
Pembuatan dua terowongan penghubung antar stasiun (northbound dan southbound).
Pengecoran struktur permanen, pemotongan king post, dan assembly TBM 2 di sisi utara Stasiun Sawah Besar.
Per November 2025, progres CP202 telah mencapai 60,20 persen, melampaui target akhir tahun 2025 sebesar 55,78 persen.
Teknologi Terowongan dan Stasiun Bawah Tanah
Fase 2A mencatat beberapa inovasi penting dalam konstruksi infrastruktur transportasi di Indonesia:
1. Terowongan Terdalam di Indonesia
Terowongan MRT Fase 2A mencapai kedalaman hingga 27 meter di bawah permukaan tanah, lebih dalam dibandingkan terowongan Fase 1 yang berada sekitar 20 meter.
2. Stasiun Empat Tingkat Pertama
Di area Harmoni, konstruksi mencakup stasiun bawah tanah empat tingkat pertama di Indonesia, yang dirancang untuk mengintegrasikan akses penumpang, fasilitas transit, dan ruang publik.
3. Sistem Perkeretaapian Modern
Rel diproduksi oleh Nippon Steel (Fukuoka, Jepang) dengan sistem direct fixation track with PC Sleeper.
Penyambungan rel menggunakan metode Continuous Welded Rail (CWR) dengan teknik flash butt welding dan thermit welding.
4. Konsep Transit-Oriented Development (TOD)
Berbeda dengan Fase 1, Fase 2A dibangun sekaligus dengan pengembangan kawasan stasiun berbasis TOD, yang mengintegrasikan fungsi transit, hunian, kegiatan ekonomi, dan ruang publik di sekitar stasiun.
Progres Keseluruhan dan Target Operasional
Per Agustus 2025, progres konstruksi keseluruhan Fase 2A mencapai 52,27 persen, melampaui target 50,61 persen.
Per November 2025, progres meningkat menjadi 55,00 persen, melewati target akhir tahun 2025 sebesar 53,29 persen.
Per November 2025, CP201 (Stasiun Thamrin–Monas) mencapai 90,77 persen, CP202 60,20 persen, dan CP203 (Glodok–Kota) 79,20 persen.
Target Operasional Segmen
Segmen 1 (Bundaran HI–Harmoni):
Target operasional: akhir 2027
Stasiun Thamrin dan Monas diharapkan sudah beroperasi pada 2027.
Segmen 2 (Harmoni–Kota):
Target operasional: akhir 2029
CP202 ditargetkan selesai operasional pada akhir 2029.
Jika pembangunan dilanjutkan hingga Fase 2B (Kota–Depo Ancol Barat), maka diharapkan seluruh jalur Utara–Selatan sampai Ancol dapat beroperasi pada tahun 2030.
Signifikansi Bagi Jakarta dan Indonesia
Pembangunan MRT Fase 2A, termasuk terowongan yang menembus hingga 27 meter dan stasiun empat tingkat pertama di Indonesia, merupakan milestone penting dalam sejarah infrastruktur transportasi massal di Tanah Air.
Proyek ini tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kenyamanan transportasi publik di Jakarta, tetapi juga mendorong pengembangan kawasan sekitarnya melalui konsep TOD, sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan mendukung mobilitas yang lebih efisien di wilayah inti Jakarta.
Dengan progres yang terus melampaui target dan penerapan teknologi modern, MRT Jakarta Fase 2A diharapkan menjadi salah satu proyek transportasi strategis yang mempercepat transformasi Jakarta sebagai kota metropolitan berstandar internasional.

