PT DCI Indonesia Tbk Pimpin Pasar Pusat Data Nasional
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memperkokoh posisi sebagai pemimpin pasar pusat data di Indonesia setelah menguasai pangsa pasar sekitar 25,6 persen per 20 Juli 2026.
Keberhasilan ini didukung oleh pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir, namun valuasi saham yang tinggi dan likuiditas yang terbatas memicu kekhawatiran investor.
Pertumbuhan Pendapatan dan Laba yang Mengesankan
Menurut data yang dikutip Investor Daily, DCII mencatat pertumbuhan pendapatan yang solid dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 30,7 persen pada periode 2021–2025.
Laba bersih perusahaan bahkan tumbuh lebih cepat, dengan CAGR mencapai 39,1 persen selama periode yang sama. Pertumbuhan laba yang melampaui laju belanja modal (CAGR belanja modal 29,2 persen) menandakan efisiensi penggunaan modal yang baik.
"DCII berada dalam posisi yang kuat untuk memanfaatkan pertumbuhan struktural industri pusat data," ujar analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti dan Nathan Simon dalam riset mereka.
Ekspansi Kapasitas: Bintan Data Center Park
Perusahaan berencana memperbesar kapasitas melalui tahap awal pengembangan Bintan Data Center Park yang diproyeksikan mencapai hingga 1.000 megawatt. Ekspansi ini diharapkan memperkuat posisi bisnis DCII di tengah permintaan layanan pusat data yang terus meningkat dari korporasi dan penyedia layanan cloud.
Valuasi Tinggi dan Likuiditas Terbatas
Meski fundamental operasional kuat, saham DCII kini menghadapi sorotan karena valuasi yang tinggi. Di lantai bursa, rasio price-to-earnings (P/E) saham tercatat mencapai 493,7 kali, level yang berada di batas atas kisaran valuasi lima tahun terakhir.
Perdagangan saham juga relatif sepi; pada penutupan 20 Juli 2026, harga saham ditutup menguat 0,38 persen ke Rp 190.775 dengan rata-rata nilai transaksi harian hanya Rp 479,8 juta. Selain itu, struktur kepemilikan saham menunjukkan konsentrasi tinggi: rasio kepemilikan terpusat mencapai 99,96 persen, yang menimbulkan risiko likuiditas dan ketergantungan pada pemegang saham inti untuk keputusan strategis.

