S&P Pertahankan Peringkat RI, IHSG Berpeluang Menguat ke Level 6.120

 

S&P Pertahankan Peringkat RI, IHSG Berpeluang Menguat ke Level 6.120

Pengumuman S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook Stabil memicu penguatan kuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus area 6.000 pada perdagangan 13 Juli 2026. 

Sentimen ini dianggap sebagai “angin segar” bagi pasar modal Indonesia setelah sebelumnya pasar sempat cemas terhadap potensi penurunan peringkat akibat tekanan fiskal dan utang yang terus meningkat.

Kunci Peristiwa: S&P Mempertahankan Peringkat Utang Indonesia

Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings menegaskan kembali:

Peringkat kredit jangka panjang Indonesia: BBB

Peringkat kredit jangka pendek: A-2

Outlook peringkat jangka panjang: Stabil.

Lembaga pemeringkat menilai indikator ekonomi Indonesia dari sisi fiskal maupun eksternal bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan, seiring kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara. 

Dengan demikian, S&P tidak menurunkan peringkat maupun prospek Indonesia, meskipun sebelumnya sempat memberikan peringatan risiko terkait tekanan fiskal dan pembayaran utang yang lebih tinggi.

Dampak Langsung ke IHSG dan Pasar Saham

Keputusan S&P dibaca positif oleh pelaku pasar, yang sebelumnya khawatir jika peringkat atau prospek Indonesia diturunkan. Dampaknya:

IHSG ditutup naik 1,92% ke posisi 6.037,84 pada Senin 13 Juli 2026.

Indeks LQ45 melompat 2,23% menjadi 602,37, sementara seluruh indeks saham acuan juga melonjak.

Kenaikan ini didorong terutama oleh sentimen pemeringkat utang, yang mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia dalam jangka pendek.

Analisis dari Kiwoom Sekuritas, MNC Sekuritas, dan Phintraco Sekuritas menyebut bahwa pengumuman S&P memberi “angin segar” bagi IHSG, terutama karena menegaskan bahwa risiko downgrade dapat dihindari sementara.

Mengapa Peringkat Utang Berdampak pada IHSG?

Peringkat utang negara memiliki kaitan langsung dengan pasar saham, terutama karena:

Biaya pembiayaan negara

Peringkat BBB dengan outlook stabil berarti Indonesia dianggap memiliki risiko kredit yang moderat, sehingga biaya utang negara tidak terlalu tinggi. Kondisi ini mendukung keberlanjutan fiskal dan mengurangi risiko guncangan yang bisa menekan pasar saham.

Kepercayaan investor asing

Investor global cenderung lebih percaya masuk ke pasar dengan peringkat yang stabil. Jika peringkat turun atau outlook menjadi negatif, inflasi modal asing bisa berkurang, mendorong IHSG terkoreksi. Keberhasilan mempertahankan peringkat BBB membantu menjaga arus modal tersebut.

Sentimen psikologis pasar

Pengumuman pemeringkat sering menjadi “trigger” bagi reaksion pasar. Ketika S&P mempertahankan peringkat tanpa downgrade, pasar melihatnya sebagai sinyal bahwa risiko tinggi dapat dihindari sementara, sehingga investor lebih berani membeli saham.

Next Post Previous Post