Saham BUMI Melonjak 14 Persen Meski Asing Catat Net Sell

 

Saham BUMI Melonjak 14 Persen Meski Asing Catat Net Sell

Meskipun investor asing melakukan aksi jual signifikan sepanjang pekan lalu, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan penguatan kuat menjelang rilis laporan keuangan kuartal II-2026. 

Data Stockbit Sekuritas menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 125,1 miliar pada periode 20–24 Juli 2026 di pasar reguler, sementara secara keseluruhan asing membukukan net sell sekitar Rp 3,3 triliun di seluruh pasar BEI sepanjang pekan tersebut.

Harga Saham BUMI

Saham BUMI Melonjak 14 Persen Meski Asing Catat Net Sell
(Foto Harga Saham BUMI dari Aplikasi Stockbit)
Pergerakan harga saham BUMI memang sempat tertekan pada penutupan Jumat (24/7/2026), turun 6,5% ke level Rp 171. Namun jika dilihat dalam rentang mingguan, saham emiten yang dimiliki Grup Bakrie dan Salim ini justru melesat sekitar 14%. Dalam periode satu bulan saham BUMI mencatat penguatan 2,4%, meski kinerja year to date (ytd) masih menunjukkan penurunan tajam sebesar 53,2%.

Penguatan yang tajam menjelang pengumuman kinerja kuartal II ini mencerminkan perhatian pasar terhadap prospek bisnis perusahaan, khususnya upaya diversifikasi yang ditempuh BUMI. Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai langkah ekspansi ke sektor non-batu bara mulai memberikan hasil nyata dan mengubah persepsi investor.

“Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti perseroan, tetapi juga melihat bahwa strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah memasuki fase operasional,” ujar Aditya.

Diversifikasi bisnis BUMI terlihat dari operasional tambang Mt Carlton di Australia melalui anak usaha Wolfram Limited, yang memproduksi emas, perak, dan tembaga. Produksi tumpuan berasal dari penambangan terbuka di area V2 sejak April 2026, disusul aktivitas tambang bawah tanah di area A39.

Seluruh konsentrat dari Mt Carlton dipasarkan ke Glencore melalui kontrak offtake berdurasi tujuh tahun, strategi yang dirancang untuk menjamin visibilitas komersial dan menyeimbangkan kontribusi EBITDA antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031.

Kontrak offtake jangka panjang dan masuknya produksi mineral strategis dianggap mampu mengurangi ketergantungan BUMI pada fluktuasi pasar batu bara dan memberikan pendapatan yang lebih stabil. Meski demikian, tekanan jual asing tetap menjadi titik perhatian karena aliran modal keluar besar dapat meningkatkan volatilitas harga saham dalam jangka pendek.

Untuk investor, situasi BUMI saat ini menawarkan kontras antara risiko pasar, terlihat dari akumulasi net sell asing dan koreksi YTD  serta potensi jangka menengah-panjang yang didorong oleh realisasi proyek non-batu bara. Pengumuman laporan kuartal II-2026 diperkirakan menjadi katalis utama yang menentukan sentimen lanjutan terhadap saham ini.

Next Post Previous Post