Saham BUMI Melonjak 14 Persen Meski Asing Catat Net Sell
Meskipun investor asing melakukan aksi jual signifikan sepanjang pekan lalu, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan penguatan kuat menjelang rilis laporan keuangan kuartal II-2026.
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 125,1 miliar pada periode 20–24 Juli 2026 di pasar reguler, sementara secara keseluruhan asing membukukan net sell sekitar Rp 3,3 triliun di seluruh pasar BEI sepanjang pekan tersebut.
Harga Saham BUMI
| (Foto Harga Saham BUMI dari Aplikasi Stockbit) |
Penguatan yang tajam menjelang pengumuman kinerja kuartal II ini mencerminkan perhatian pasar terhadap prospek bisnis perusahaan, khususnya upaya diversifikasi yang ditempuh BUMI. Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai langkah ekspansi ke sektor non-batu bara mulai memberikan hasil nyata dan mengubah persepsi investor.
“Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti perseroan, tetapi juga melihat bahwa strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah memasuki fase operasional,” ujar Aditya.
Diversifikasi bisnis BUMI terlihat dari operasional tambang Mt Carlton di Australia melalui anak usaha Wolfram Limited, yang memproduksi emas, perak, dan tembaga. Produksi tumpuan berasal dari penambangan terbuka di area V2 sejak April 2026, disusul aktivitas tambang bawah tanah di area A39.
Seluruh konsentrat dari Mt Carlton dipasarkan ke Glencore melalui kontrak offtake berdurasi tujuh tahun, strategi yang dirancang untuk menjamin visibilitas komersial dan menyeimbangkan kontribusi EBITDA antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031.
Kontrak offtake jangka panjang dan masuknya produksi mineral strategis dianggap mampu mengurangi ketergantungan BUMI pada fluktuasi pasar batu bara dan memberikan pendapatan yang lebih stabil. Meski demikian, tekanan jual asing tetap menjadi titik perhatian karena aliran modal keluar besar dapat meningkatkan volatilitas harga saham dalam jangka pendek.
Untuk investor, situasi BUMI saat ini menawarkan kontras antara risiko pasar, terlihat dari akumulasi net sell asing dan koreksi YTD serta potensi jangka menengah-panjang yang didorong oleh realisasi proyek non-batu bara. Pengumuman laporan kuartal II-2026 diperkirakan menjadi katalis utama yang menentukan sentimen lanjutan terhadap saham ini.

