SKK Migas Alokasikan 72 Persen Gas Blok North Hub Domestik

SKK Migas Alokasikan 72 Persen Gas Blok North Hub Domestik

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menetapkan alokasi sebesar 72 persen dari total produksi gas Blok North Hub untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. 

Keputusan strategis ini dikonfirmasi pada Kamis (23/7/2026) di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, bertepatan dengan dimulainya pemotongan baja perdana untuk Floating Production, Storage, and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari (BHL).

Detail Alokasi Gas Domestik dan Ekspor

Dari total alokasi dalam negeri sebesar 72 persen, komposisi penyalurannya dibagi menjadi tiga kategori utama:

Gas pipa (52%) – Setara 2.040 MMscf, disalurkan melalui jaringan pipa untuk menyokong kebutuhan sektor industri, pembangkit listrik, hingga jaringan rumah tangga di sekitar Kalimantan.

LNG domestik (12%) – Setara 453 MMscf, disiapkan untuk pasokan liquified natural gas (LNG) dalam negeri yang rencananya dieksekusi oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

Cadangan (buffer) LNG (8%) – Sekitar 328 MMscf, disiapkan guna mendukung program pemerintah terkait masifikasi compressed natural gas (CNG) demi menggeser penggunaan LPG.

Sementara itu, porsi ekspor LNG dipatok sebesar 28 persen atau setara 1.075 MMscf.

"Untuk gas pipanya itu 52% untuk kebutuhan industri di sekitar Kalimantan, termasuk kelistrikan, ada industri pupuk, ada petrokimia, ada amonia, ada metanol. Kemudian juga untuk pasokan LNG," kata Djoko Siswanto, Ketua SKK Migas.

Skema Komersial dan Formula Harga

Mengenai skema komersial, harga LNG dari Blok North Hub disepakati pada rata-rata 12,5 persen dikalikan harga minyak dunia. Untuk gas pipa, formula harganya akan disesuaikan secara khusus berdasarkan karakteristik dan produk masing-masing industri pembeli.

"Jadi ada floor price plus harga daripada produk. Kalau itu pupuk, itu harganya harga jual pupuk, kalau metanol harga jual metanol, kemudian kalau amoniak harga jual amoniak. Itu untuk gas pipanya, jadi ada floor price plus formula," kata Djoko Siswanto.

Proyek Strategis Nasional: FPSO Bahtera Haluan Lestari

Pengumuman alokasi gas ini bertepatan dengan dimulainya pemotongan baja perdana untuk FPSO Bahtera Haluan Lestari (BHL). Unit pemrosesan terapung ini akan memfasilitasi Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem milik Eni SpA di wilayah laut dalam Kepulauan Riau.

Proyek strategis nasional ini dikelola oleh Searah North Ganal Limited dan ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV-2028.

Spesifikasi Teknis FPSO BHL

Bobot: 145.800 ton

Dimensi: Panjang 350 meter, lebar 64 meter, tinggi 32 meter

Lokasi operasi: Kedalaman laut lebih dari 2.000 meter

Kapasitas produksi: 1 miliar kaki kubik standar per hari (bscfd) gas dan 80.000 barel kondensat per hari

"FPSO Kutai North merepresentasikan sebuah proyek dengan skala dan ambisi yang luar biasa. Dengan panjang 350 meter, lebar 64 meter, dan tinggi 32 meter, unit ini akan menjadi salah satu FPSO terbesar yang pernah dibangun di seluruh dunia. Setelah selesai, ini akan menjadi FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara," kata Mirko Araldi, CEO Searah North Ganal Limited.

Investasi dan Dampak Ekonomi

Total nilai investasi proyek Kutei North Hub tercatat mencapai US$11,8 miliar, dengan US$2,9 miliar di antaranya digelontorkan khusus untuk konstruksi FPSO. Proyek ini diproyeksikan sanggup menghasilkan pasokan gas hingga 1 miliar kaki kubik standar per hari (bscfd) dan kondensat 80.000 barel per hari melalui pengeboran 16 sumur produksi.

SKK Migas menargetkan produksi gas North Hub Development Project mencapai 1.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat 80.000 barel per hari mulai kuartal IV 2028, dengan membuka setidaknya 8.000 lapangan kerja.

Konsorsium pelaksana proyek raksasa ini melibatkan kolaborasi antara PT Searah (perusahaan patungan Eni dan PETRONAS), PT Saipem, dan PT Tripatra.

Next Post Previous Post