Hartadinata Abadi Raih Laba Rp 700 Miliar Semester I 2026
Pendapatan perseroan juga ikut melesat 124,61 persen YoY menjadi Rp 33,80 triliun dari sebelumnya Rp 15,05 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa bisnis HRTA masih mampu tumbuh agresif di tengah dinamika pasar emas domestik dan global.
Penjualan Emas Murni Jadi Penopang
Pertumbuhan HRTA pada paruh pertama 2026 terutama didorong oleh volume penjualan emas murni yang naik 46,74 persen YoY menjadi 13 ton. Di saat yang sama, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) meningkat 53,21 persen YoY menjadi Rp 2.591.673 per gram. Kombinasi kenaikan volume dan harga inilah yang menjadi motor utama lonjakan pendapatan dan laba bersih perseroan.
Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto, mengatakan pencapaian semester I-2026 mencerminkan efektivitas strategi perseroan dalam memperkuat ekosistem bisnis emas yang terintegrasi. Ia menegaskan perusahaan akan terus menjaga daya saing dan pertumbuhan jangka panjang bagi para pemegang saham.
Segmen Grosir Masih Dominan
Dari sisi komposisi penjualan, segmen grosir menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 89,33 persen dari total pendapatan. Kontribusi terbesar di segmen ini datang dari institusi keuangan dan bullion bank yang mencapai 80,34 persen. Sementara itu, segmen ritel berkontribusi 10,31 persen dan bisnis gadai 0,33 persen.
Struktur pendapatan tersebut menunjukkan bahwa HRTA semakin kuat sebagai pemain utama dalam rantai pasok emas, terutama melalui hubungan bisnis dengan lembaga keuangan. Ini juga memperkuat posisi perseroan di tengah meningkatnya permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai.
Profitabilitas Tetap Sehat
Selain laba dan pendapatan yang naik tajam, rasio profitabilitas HRTA juga menunjukkan perbaikan. Return on Assets (ROA) tercatat 12,33 persen dan Return on Equity (ROE) berada di level 37,37 persen. Di sisi lain, rasio utang berbunga terhadap ekuitas tetap terjaga pada level 1,11 kali, menandakan struktur permodalan perusahaan masih sehat.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa pertumbuhan HRTA tidak hanya berasal dari ekspansi penjualan, tetapi juga didukung efisiensi dan pengelolaan keuangan yang baik. Bagi investor, kombinasi pertumbuhan tinggi dan neraca yang relatif terjaga menjadi faktor penting untuk dicermati.
Harga Emas Masih Jadi Katalis
Sepanjang Juli 2026, rata-rata harga emas pasar domestik tercatat Rp 2.356.050 per gram, naik 34,66 persen YoY dan 5,06 persen secara year to date (YTD). Sementara itu, rata-rata harga emas global bergerak stabil di level US$ 4.072,54 per troy ounce.
Dengan tren harga emas yang masih kuat dan permintaan dari institusi keuangan serta bullion bank yang terus meningkat, prospek bisnis HRTA dinilai masih menjanjikan. Perusahaan pun menyatakan akan terus fokus pada penciptaan pertumbuhan berkelanjutan dan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham.

