IHSG Ditutup Menguat di Level 6.525, Sentimen Pasar Tetap Dijaga
| (Foto IHSG dari Google Finansial) |
IHSG dibuka pada 6.524,07 dan bergerak dalam rentang 6.507 hingga 6.552 sepanjang perdagangan. Kenaikan indeks didukung oleh 319 saham yang menguat, sementara 294 saham melemah dan 178 saham stagnan. Aktivitas pasar juga tergolong ramai, dengan nilai transaksi sekitar Rp17 triliun serta frekuensi perdagangan melampaui 2,25 juta kali.
Sektor Keuangan Jadi Penopang
Penguatan pasar terutama ditopang sektor utilitas, keuangan, dan konsumer primer. Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi motor utama indeks, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI yang memberi kontribusi penguatan terbesar setelah naik 2,87% ke Rp3.230 per saham.
Selain BBRI, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BBNI juga memberikan dorongan berarti terhadap IHSG. Sejumlah saham lain seperti BBCA, DSSA, BUMI, BRMS, TPIA, MORA, dan ANTM turut menopang pergerakan indeks.
Sentimen Domestik Menopang Optimisme
Dari dalam negeri, investor mencermati rencana Bursa Efek Indonesia untuk mengubah batas harga minimum saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. BEI juga berencana menyesuaikan ketentuan auto rejection serta menghapus sejumlah kriteria pada Papan Pemantauan Khusus. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan likuiditas perdagangan, meski pasar masih perlu menilai dampaknya terhadap saham berharga rendah.
Sentimen domestik lain datang dari kondisi Neraca Pembayaran Indonesia. Bank Indonesia mencatat defisit NPI triwulan II 2026 sebesar US$0,9 miliar, membaik dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada periode sebelumnya. Perbaikan ini menjadi salah satu indikator yang membantu menjaga persepsi investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia.
Risiko Global Tetap Perlu Dicermati
Meski IHSG berakhir menguat, investor masih perlu menjaga kewaspadaan terhadap sejumlah faktor eksternal. Pasar global tengah memperhatikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor panjang, yang dapat meningkatkan biaya pendanaan dan menekan valuasi aset berisiko apabila berlangsung berkepanjangan.
Perkembangan konflik Amerika Serikat–Iran dan dampaknya terhadap pasokan energi serta jalur pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian. Di saat yang sama, pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, kondisi ekonomi China, serta dinamika inflasi dan perdagangan Jepang.
Dengan IHSG bertahan di atas level 6.500, optimisme pasar masih terjaga. Namun, penguatan berikutnya akan sangat bergantung pada stabilitas sentimen global, arus dana asing, serta respons investor terhadap kebijakan dan data ekonomi domestik.

