Industri Es Krim AS Berubah, Produsen Fokus pada Produk Rendah Kalori dan Tinggi Protein

Industri Es Krim AS Berubah, Produsen Fokus pada Produk Rendah Kalori dan Tinggi Protein

Industri es krim di Amerika Serikat mulai mengubah strategi untuk mengikuti preferensi konsumen yang semakin memperhatikan kesehatan. Konsumen tetap ingin menikmati es krim sebagai makanan penutup, tetapi kini lebih selektif terhadap kandungan kalori, protein, gula, dan nutrisi dalam setiap produk.

Perubahan tersebut semakin kuat seiring meningkatnya penggunaan obat GLP-1, yang berfungsi menekan nafsu makan dan membantu proses penurunan berat badan. Kondisi ini membuat produsen es krim berupaya menghadirkan produk dengan porsi lebih kecil, kandungan protein lebih tinggi, serta bahan-bahan yang dianggap lebih sehat.

Penjualan Es Krim Mengalami Penurunan Volume

Berdasarkan data NielsenIQ, volume penjualan es krim di Amerika Serikat turun 1,5 persen hingga 13 Juni 2026. Penurunan konsumsi juga terlihat pada kategori makanan beku.

Riset Boston Consulting Group mencatat bahwa pengguna obat GLP-1 mengurangi konsumsi makanan beku sekitar 10 persen. Obat tersebut diketahui dapat mengurangi rasa lapar sehingga pengguna cenderung makan lebih sedikit, termasuk dalam hal makanan ringan dan hidangan penutup.

Meski demikian, produsen tidak memperkirakan konsumen akan sepenuhnya meninggalkan es krim. Mereka justru berusaha menciptakan produk yang tetap memberikan kenikmatan, tetapi memiliki nilai nutrisi yang lebih baik.

“Kami masih ingin memanjakan diri, namun melakukannya dengan sedikit sentuhan kesehatan,” ujar Lisa Vortsman, Kepala Pemasaran dan Inovasi The Magnum Ice Cream Company, seperti dikutip dari Money.

Produsen Kurangi Porsi dan Tambah Protein

Salah satu strategi yang dilakukan produsen adalah mengurangi ukuran porsi. Dengan cara ini, konsumen tetap dapat menikmati es krim tanpa mengonsumsi terlalu banyak kalori dalam sekali makan.

Produsen juga mulai menambahkan kandungan protein dan serat. Selain itu, sejumlah perusahaan memformulasi ulang resep dengan mengurangi atau menghilangkan bahan-bahan yang kurang diminati konsumen, seperti sirup jagung fruktosa tinggi dan pewarna buatan.

Blue Bunny, merek milik Ferrero, menjadi salah satu perusahaan yang mengikuti tren tersebut. Produk Mini Swirls dari Blue Bunny menawarkan sekitar 150 kalori per porsi. Ferrero juga sedang mengembangkan kembali sejumlah resep agar lebih sesuai dengan keinginan konsumen yang mengutamakan bahan-bahan sederhana dan nilai nutrisi.

Perubahan ini menunjukkan bahwa konsumen tidak sepenuhnya ingin berhenti mengonsumsi es krim. Mereka hanya menginginkan pilihan yang lebih seimbang antara rasa, porsi, dan kandungan nutrisi.

Produk Es Krim Sehat Semakin Populer

Sejumlah produk es krim dan makanan penutup beku dengan klaim rendah kalori, rendah gula, atau tinggi protein mulai memperoleh perhatian lebih besar di pasar Amerika Serikat.

Beberapa produk yang populer di kalangan konsumen, termasuk pengguna obat GLP-1, antara lain:

Yasso, produk yoghurt beku berbahan yoghurt Yunani.

Breyers CarbSmart, yang menyasar konsumen dengan kebutuhan asupan karbohidrat lebih rendah.

Popsicle Sugar Free, produk es loli tanpa gula.

Halo Top, es krim dengan kandungan kalori sekitar setengah dari es krim konvensional.

Yasso mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 20 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Sementara itu, Halo Top berhasil membukukan pertumbuhan penjualan dua digit dalam dua tahun terakhir, jauh di atas rata-rata pertumbuhan pasar.

Magnum juga memperkuat posisinya di segmen es krim kesehatan dan fungsional. Merek tersebut disebut menguasai sekitar 26 persen pangsa pasar kategori itu di Amerika Serikat, yang memiliki nilai sekitar 2,2 miliar dolar AS.

“Kami mempercepat saluran inovasi kesehatan kami jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya,” kata Vortsman.

Konsumen Tidak Lagi Bebas Memanjakan Diri

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari perbedaan antara nilai dan volume penjualan. Dalam setahun terakhir, nilai penjualan es krim meningkat 2,8 persen, tetapi volume penjualan secara keseluruhan justru menurun.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen mungkin membeli produk dengan harga lebih tinggi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Segmen super premium menjadi salah satu pengecualian karena masih mencatat pertumbuhan.

Chris Costagli dari NielsenIQ menilai konsumen kini lebih berhati-hati saat memilih makanan untuk memanjakan diri.

“Konsumen sudah tidak lagi memberikan kebebasan untuk memanjakan diri,” ujarnya.

Artinya, keputusan membeli es krim tidak lagi hanya dipengaruhi oleh rasa. Konsumen juga mempertimbangkan ukuran porsi, jumlah kalori, kandungan protein, kadar gula, serta jenis bahan yang digunakan.

Pengaruh GLP-1 Meluas ke Industri Makanan

Penggunaan obat GLP-1 di Amerika Serikat diperkirakan telah mencapai sekitar 16 juta orang dan masih terus meningkat. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi industri es krim, tetapi juga mendorong perusahaan makanan lain untuk menyesuaikan produk mereka.

Perusahaan seperti Nestle dan Conagra mulai mengembangkan makanan dengan kandungan protein dan serat yang lebih tinggi. Tujuannya adalah menghadirkan produk yang lebih mengenyangkan dan tetap menarik bagi konsumen dengan nafsu makan yang lebih rendah.

Tren ini juga mendorong produsen untuk menyesuaikan ukuran kemasan. Produk dalam porsi kecil dianggap lebih sesuai dengan pola konsumsi pengguna obat GLP-1 maupun konsumen yang sedang mengatur berat badan.

Tren Es Krim Sehat Menyebar ke Eropa

Perubahan strategi dalam industri es krim tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Tren produk dengan kandungan nutrisi yang lebih baik mulai menyebar ke pasar Eropa.

Glacier, produsen es krim label privat terbesar di Eropa, melihat adanya peningkatan minat terhadap produk yang menawarkan manfaat kesehatan tambahan. Namun, rasa tetap menjadi faktor utama yang menentukan keputusan pembelian.

Matt Frost, Direktur Eksekutif Glacier, menyatakan bahwa konsumen ingin memperoleh produk dengan nutrisi yang lebih baik tanpa merasa kehilangan kenikmatan saat mengonsumsinya.

Dengan kata lain, produk es krim sehat tetap harus memiliki rasa, tekstur, dan pengalaman makan yang menarik. Klaim rendah kalori atau tinggi protein saja tidak cukup apabila produk tersebut tidak mampu memberikan cita rasa yang memuaskan.

Masa Depan Industri Es Krim

Perubahan pola konsumsi memaksa produsen es krim menemukan keseimbangan antara rasa, harga, ukuran porsi, dan kandungan nutrisi. Tantangan terbesar bagi perusahaan adalah menghadirkan produk yang lebih sehat tanpa membuat konsumen merasa sedang mengorbankan kenikmatan.

Industri es krim kini tidak hanya berfokus pada peningkatan volume penjualan. Produsen juga berusaha mempertahankan minat konsumen ketika mereka ingin menikmati makanan penutup dalam jumlah yang lebih terkontrol.

Meningkatnya penggunaan obat GLP-1 kemungkinan akan terus memengaruhi inovasi di sektor makanan dan minuman. Es krim rendah kalori, tinggi protein, rendah gula, serta memiliki ukuran porsi lebih kecil diperkirakan akan semakin banyak ditemukan di pasaran.

Bagi konsumen, perubahan ini memberikan lebih banyak pilihan untuk menikmati es krim sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing. Bagi produsen, tren tersebut menjadi sinyal bahwa masa depan industri es krim akan ditentukan oleh kemampuan menggabungkan kenikmatan dan kesehatan dalam satu produk.

 

Next Post Previous Post