Laba Bersih BNI Melonjak Jadi Rp10,75 Triliun pada Semester I-2026
Capaian tersebut menunjukkan bahwa BBNI masih mampu menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri perbankan yang kompetitif. Kenaikan laba ditopang oleh penguatan pendapatan bunga, pertumbuhan pendapatan non-bunga, serta ekspansi kredit yang berjalan agresif.
Pendapatan Bunga Naik 14,9 Persen
Pertumbuhan laba bersih BBNI terutama ditopang oleh lonjakan pendapatan bunga yang mencapai Rp38,63 triliun per Juni 2026. Angka ini tumbuh 14,9 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, beban bunga BBNI juga ikut meningkat dan tercatat sebesar Rp16,34 triliun sepanjang paruh pertama 2026. Namun demikian, kenaikan pendapatan bunga yang lebih tinggi membuat perseroan tetap mampu mencetak pendapatan bunga bersih yang solid.
Hingga akhir Juni 2026, pendapatan bunga bersih BBNI mencapai Rp22,28 triliun. Nilai tersebut naik 14,1 persen secara tahunan dari posisi Rp19,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan Non-Bunga Ikut Menguat
Selain dari bisnis inti perbankan, BBNI juga membukukan pertumbuhan positif pada pendapatan non-bunga atau operasional lainnya. Pos ini naik 11,3 persen menjadi Rp11,43 triliun.
Kenaikan tersebut didorong oleh pencapaian pos provisi dan komisi lainnya yang menembus Rp5,5 triliun. Hal ini menandakan diversifikasi pendapatan BBNI masih berjalan baik, sehingga tidak hanya bergantung pada bunga kredit semata.
Kredit dan DPK Tumbuh Agresif
Dari sisi intermediasi, BBNI mencatat penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp969,54 triliun. Realisasi ini melonjak 24,4 persen secara tahunan dan tumbuh 5 persen secara kuartalan.
Pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut turut diimbangi oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.100 triliun, naik 22,3 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, dana murah atau current account saving account (CASA) masih mendominasi dengan nilai Rp719,97 triliun, tumbuh 11,2 persen.
Seiring dengan ekspansi bisnis yang kuat, total aset BBNI juga ikut terkerek menjadi Rp1.461 triliun, atau meningkat 21,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kualitas Aset Tetap Terjaga
Di tengah ekspansi yang agresif, BBNI tetap berhasil menjaga kualitas aset secara disiplin. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1,9 persen hingga akhir Juni 2026.
Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) juga menunjukkan perbaikan dengan turun ke 8,1 persen. Ini menjadi sinyal positif bahwa pertumbuhan kredit BBNI masih berada dalam koridor manajemen risiko yang relatif sehat.

