Manajemen GIAA Pastikan Operasional Berjalan Normal di Tengah Wacana Merger Pelita Air

 

Manajemen GIAA Pastikan Operasional Berjalan Normal di Tengah Wacana Merger Pelita Air

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menegaskan bahwa rencana konsolidasi atau merger dengan PT Pelita Air Service, maskapai milik PT Pertamina (Persero), masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan di tingkat pemegang saham serta para pihak terkait. Hingga saat ini, belum ada keputusan final terkait bentuk maupun mekanisme penggabungan tersebut.

Status Terkini: Masih Kajian, Belum Ada Keputusan Final

Manajemen GIAA menjelaskan bahwa kajian yang dilakukan bersifat menyeluruh dan mencakup berbagai aspek strategis, termasuk penguatan ekosistem penerbangan nasional serta keberlanjutan agenda transformasi perseroan. Dalam keterbukaan informasinya, Garuda menyatakan bahwa operasional, pelayanan pelanggan, dan rencana penerbangan tetap berjalan seperti biasa tanpa perubahan akibat wacana merger ini.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, pada November 2025 juga mengonfirmasi bahwa rencana penggabungan Pelita Air dan Garuda masih terus berproses di bawah koordinasi Pertamina dan Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara). Komunikasi antara Pertamina melalui Pelita Air dan GIAA sudah dimulai, dengan seluruh proses dilaporkan kepada Danantara untuk pengambilan keputusan.

Latar Belakang dan Skema yang Pernah Diungkapkan

Wacana merger Garuda–Pelita Air sebenarnya sudah mengudara sejak September 2025, bahkan sebelumnya pernah disinggung oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada 2023 terkait konsolidasi maskapai BUMN. Erick Thohir pernah membocorkan skema di mana Garuda Indonesia akan tetap berdiri sebagai satu entitas, sementara Citilink dan Pelita Air akan dilebur menjadi satu. Dalam skema itu, Pertamina sebagai pemilik Pelita Air nantinya akan memiliki sebagian kepemilikan pada Citilink, meskipun porsi kepemilikannya belum diungkapkan.

Pada Februari 2026, ada target bahwa merger maskapai diharapkan terjadi pada Semester I/2026 untuk efisiensi rute, dengan integrasi sistem pemesanan, mileage, dan rute antara Garuda, Citilink, dan Pelita Air. Namun, hingga Agustus 2026, mekanisme pasti merger tersebut masih belum dipaparkan secara detail.

Peran Danantara dalam Konsolidasi Maskapai BUMN

Danantara Indonesia disebut-sebut tengah menggencarkan konsolidasi maskapai BUMN, termasuk merger Garuda dengan Pelita Air. Dalam beberapa skenario yang dibahas, Garuda Indonesia diproyeksikan menjadi holding maskapai BUMN, sementara Pelita Air akan bergabung sebagai bagian dari Garuda Group. Danantara juga memastikan bahwa rencana merger ini akan terus dilanjutkan meskipun terdapat berbagai dinamika, termasuk revisi nilai private placement Garuda.

Apa Artinya bagi Investor dan Penumpang?

Bagi investor GIAA, status “masih kajian” berarti belum ada dampak langsung terhadap valuasi saham dari aksi korporasi ini, namun potensi efisiensi rute dan integrasi operasional ke depan bisa menjadi katalis positif jika terealisasi. Bagi penumpang, Garuda menekankan bahwa tidak ada perubahan pada rencana penerbangan maupun komitmen layanan perseroan saat ini.

Setiap perkembangan yang bersifat material terkait rencana merger ini akan disampaikan oleh perseroan sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.

Next Post Previous Post