Ray Dalio Peringatkan Krisis Utang AS, Dorong Emas dan Bitcoin
Investor legendaris Ray Dalio menilai risiko krisis utang Amerika Serikat semakin meningkat. Pendiri Bridgewater Associates itu menyarankan investor meninjau kembali komposisi portofolio, terutama dengan mengurangi ketergantungan pada aset berbasis utang dan mempertimbangkan emas serta bitcoin sebagai instrumen diversifikasi.
Dalio menyoroti sejumlah sinyal yang menurutnya memperbesar tekanan terhadap kondisi fiskal AS. Di antaranya adalah kebijakan pembelian kembali surat utang pemerintah, berkurangnya eksposur Pemerintah Jepang terhadap obligasi AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang. Kombinasi faktor tersebut dapat membuat pembiayaan utang semakin mahal dan meningkatkan kerentanan pasar keuangan.
Defisit dan Beban Utang
Menurut Dalio, pemerintah AS saat ini membelanjakan lebih dari 40 persen di atas pendapatannya. Defisit anggaran AS pada Juli 2026 tercatat melampaui 432 miliar dollar AS, meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan defisit tersebut kemungkinan telah mencapai puncaknya di era pemerintahan Donald Trump.
Pemerintah AS disebut tengah mencari cara memangkas belanja hingga ratusan miliar dollar AS. Namun, Dalio melihat pilihan pemangkasan tersebut tidak mudah karena sebagian besar pengeluaran pemerintah sudah bersifat wajib atau dianggap penting bagi layanan publik dan perekonomian.
Dalio mengibaratkan kondisi pemerintah AS seperti perusahaan dengan kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang yang sangat tinggi. Perkiraannya, nilai pembayaran tersebut dapat mencapai sekitar 11 triliun dollar AS, setara kurang lebih 200 persen dari pendapatan tahunan pemerintah.
Emas dan Bitcoin sebagai Diversifikasi
| (Foto Harga Bitcoin dari TradingView) |
Catatan bagi Investor
Peringatan Dalio menegaskan pentingnya diversifikasi ketika risiko fiskal dan pasar obligasi meningkat. Investor dapat mengevaluasi kembali keseimbangan antara kas, obligasi, saham, emas, dan aset alternatif agar tidak bergantung pada satu jenis aset saja.
Namun, krisis utang bukan kepastian yang bisa diprediksi waktunya secara presisi. Pendekatan yang lebih prudent adalah membangun portofolio yang tahan terhadap beberapa skenario ekonomi, bukan mengambil keputusan investasi secara tergesa-gesa berdasarkan satu proyeksi.

