Bitcoin Stabil di Level US$77.000, Pasar Waspadai Ketegangan Timur Tengah dan Suku Bunga

 

Bitcoin Stabil di Level US$77.000, Pasar Waspadai Ketegangan Timur Tengah dan Suku Bunga

Harga Bitcoin bergerak terbatas pada Senin setelah mengalami penurunan pada pekan sebelumnya. Investor masih mencermati memburuknya konflik di Timur Tengah serta meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga.

Bitcoin tercatat naik sekitar 0,8% menjadi US$77.760,7 pada pukul 09.09. Kendati demikian, aset kripto terbesar di dunia tersebut masih berada di bawah tekanan setelah melemah sekitar 3% sepanjang pekan lalu.

Lonjakan Harga Minyak Tekan Aset Berisiko

Bitcoin Stabil di Level US$77.000, Pasar Waspadai Ketegangan Timur Tengah dan Suku Bunga
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Pergerakan Bitcoin berlangsung di tengah pelemahan yang lebih luas pada sejumlah aset berisiko. Investor kembali mengkhawatirkan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Iran masih berselisih terkait Selat Hormuz. Pada saat yang sama, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran disebut membuka front baru dengan menyerang Arab Saudi serta jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandab.

Perkembangan tersebut berpotensi mengganggu sekitar 4% hingga 5% pasokan minyak global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, harga minyak dapat memperoleh premi risiko yang lebih tinggi dan mendorong kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi.

Kondisi itu menjadi sentimen negatif bagi Bitcoin dan aset spekulatif lainnya. Kenaikan harga energi dapat membuat bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

Pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan pekan ini. Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran bahwa inflasi masih sulit turun.

Data inflasi Amerika Serikat untuk Agustus yang dirilis pada pekan sebelumnya turut memperkuat spekulasi tersebut. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan imbal hasil aset berbasis dolar dan mengurangi daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin.

Selain Federal Reserve, Bank of Japan dan Bank of England juga dijadwalkan mengadakan pertemuan pada pekan yang sama. Bank of England bahkan diperkirakan menaikkan suku bunga, sehingga pasar kripto menghadapi tekanan dari kebijakan moneter sejumlah bank sentral besar.

Investor Menanti Clarity Act

Selain faktor makroekonomi, pelaku pasar kripto juga menantikan perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Kongres AS dijadwalkan mempertimbangkan kemungkinan pemungutan suara atas Clarity Act pada 15 September.

Rancangan undang-undang tersebut telah lama dinantikan oleh industri kripto karena diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kerangka regulasi aset digital di AS. Namun, belum ada kepastian apakah pemungutan suara akan benar-benar dilanjutkan atau apakah rancangan tersebut mampu mengamankan sedikitnya 60 suara yang dibutuhkan untuk disahkan.

Perdebatan masih berlangsung, terutama mengenai perlakuan terhadap imbal hasil stablecoin dan ketentuan etika yang dapat membatasi pejabat dalam berinvestasi pada aset kripto. Ketidakpastian ini membuat trader cenderung menahan diri.

Bitcoin masih berusaha mempertahankan posisinya di sekitar US$77.700. Namun, arah pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, keputusan bank sentral, serta kemajuan pembahasan Clarity Act di Amerika Serikat.

Next Post Previous Post