Bitcoin Turun Hari Ini, Tapi Masih Cetak Kenaikan 3 Minggu Berturut-turut

Bitcoin Turun Hari Ini, Tapi Masih Cetak Kenaikan 3 Minggu Berturut-turut

Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan koreksi pada Jumat (4/9/2026) waktu New York, turun sekitar 2,2 persen ke level USD79.802. Meski begitu, secara mingguan aset kripto terbesar di dunia ini masih berpotensi menutup dengan kenaikan sekitar 3 persen, menandai reli tiga minggu berturut-turut.

Pemicu Penurunan: Data Tenaga Kerja AS “Kepanasan”

Penurunan Bitcoin dipicu oleh laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 162 ribu lapangan kerja non-pertanian pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi ekonom yang hanya 55 ribu.

Tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1 persen, sementara data Juni–Juli juga direvisi naik dengan total tambahan 55 ribu pekerjaan. Data “panas” ini mendorong pedagang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 16 September 2026.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan aset berisiko seperti saham dan kripto, karena imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) menjadi lebih menarik.

Sempat Sentuh Level Tertinggi Sejak Mei 2026

Bitcoin Turun Hari Ini, Tapi Masih Cetak Kenaikan 3 Minggu Berturut-turut
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Sebelum terkoreksi, Bitcoin sempat menyentuh level USD82.178,6, level tertinggi sejak pertengahan Mei 2026. Per 5 September 2026, BTC diperdagangkan di kisaran USD79.600–79.800 (sekitar Rp1,4 miliar per koin dengan kurs ~Rp17.600/USD).

Dalam 24 jam terakhir, BTC mengalami koreksi ringan sekitar 1,9–2,2 persen setelah sempat menembus level di atas USD80.000–81.000 pada Kamis–Jumat awal. Secara bulanan, Bitcoin masih mencatatkan kinerja kuat setelah rally sekitar 24–25 persen pada Agustus 2026.

Sentimen Regulasi AS Jadi Penopang Reli Mingguan

Di tengah tekanan makro, Bitcoin tetap mendapat dukungan dari sentimen regulasi di AS. Ketua Securities and Exchange Commission (SEC), Paul Atkins, menyatakan harapannya agar Senat AS melakukan pemungutan suara terkait Clarity Act pada 15 September 2026.

Pasar kripto memandang Clarity Act sebagai langkah penting untuk memperjelas kerangka regulasi, meskipun pengesahannya tertunda karena perbedaan pendapat terkait stablecoin dan aturan perdagangan bagi pembuat kebijakan di pasar kripto.

Komentar positif dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang cenderung mendukung suku bunga stabil juga sempat meredakan kekhawatiran pasar sebelum data tenaga kerja dirilis.

Apa Artinya Bagi Investor Kripto?

Jangka pendek: Pasar sedang mencerna data makro AS dan ekspektasi suku bunga The Fed, sehingga volatilitas harian cenderung tinggi.

Jangka menengah: Tren tiga minggu naik berturut-turut menunjukkan momentum bullish belum sepenuhnya patah, terutama jika sentimen regulasi AS tetap positif.

Faktor kunci ke depan: hasil pemungutan suara Clarity Act, data inflasi AS berikutnya, dan keputusan suku bunga The Fed pada 16 September 2026.

Penutup

Bitcoin memang turun pada Jumat (4/9/2026), tetapi secara mingguan aset ini masih mencatatkan kenaikan untuk ketiga kalinya berturut-turut, ditopang oleh sentimen regulasi AS yang makin jelas meski tekanan suku bunga masih membayangi.

Bagi investor, kombinasi data makro, kebijakan The Fed, dan perkembangan regulasi akan menjadi penentu arah Bitcoin di pekan-pekan mendatang.

 

Next Post Previous Post