Daftar Saham di Bawah Rp50 yang Naik di Sesi I, Ada TAMU dan PPRO

Daftar Saham di Bawah Rp50 yang Naik di Sesi I, Ada TAMU dan PPRO
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghapus batas minimum harga saham Rp50 per lembar mulai Senin, 28 September 2026. Dengan aturan baru ini, saham-saham emiten di Indonesia dapat diperdagangkan mulai dari harga Rp1 per lembar.

Perubahan tersebut membuat pergerakan saham berharga di bawah Rp50 menjadi perhatian investor. Berdasarkan data IDX Mobile hingga perdagangan sesi I, terdapat 23 saham yang menguat lebih dari 10 persen.

Aturan Harga Minimum Dihapus

Sebelumnya, Rp50 menjadi batas bawah perdagangan saham di BEI. Saham yang berada di level tersebut tidak dapat turun lebih rendah melalui mekanisme perdagangan reguler.

Setelah batas minimum dihapus, harga saham dapat bergerak mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran pasar, termasuk turun hingga Rp1 per lembar. Kebijakan ini diharapkan dapat membentuk titik keseimbangan harga baru sesuai dengan persepsi investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan kebijakan tersebut juga diharapkan meningkatkan likuiditas pasar.

“Kalau Rp50 itu sekarang nyangkut dan sepi, mungkin karena konsensus pasar harganya sudah tidak bisa di Rp50. Tapi begitu dibuka maka dia bisa sampai ke angka terendah di Rp1, mungkin akan ketemu nanti di harga saham yang memang dipersepsi oleh investor sebagai harga saham yang wajarnya,” ujar Hasan di Gedung BEI, Jumat, 25 September 2026.

Ada 23 Saham Menguat

Daftar Saham di Bawah Rp50 yang Naik di Sesi I, Ada TAMU dan PPRO
(Foto Saham TAMU dari Google Finansial)
Data IDX Mobile menunjukkan 23 saham di bawah level gocap menguat lebih dari 10 persen hingga akhir sesi I perdagangan Senin.

Kenaikan tersebut terjadi pada hari pertama penerapan aturan baru BEI. Pergerakan saham di bawah Rp50 menjadi lebih dinamis karena investor mulai membentuk harga baru berdasarkan minat beli dan jual di pasar.

Namun, kenaikan harga pada sesi pertama belum serta-merta menunjukkan perubahan fundamental perusahaan. Investor tetap perlu mencermati likuiditas transaksi, kinerja keuangan, keterbukaan informasi, serta risiko volatilitas yang tinggi.

Berikut daftar 23 saham di bawah Rp50 yang menguat lebih dari 10 persen pada perdagangan sesi I, Senin, 28 September 2026:

No.

Kode

Nama Emiten

Perubahan

Harga

1

TAMU

PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk

34,62%

Rp35

2

PPRO

PT PP Properti Tbk

33,33%

Rp20

3

BEKS

PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk

31,82%

Rp29

4

BLTA

PT Berlian Laju Tanker Tbk

31,25%

Rp42

5

VIVA

PT Visi Media Asia Tbk

27,78%

Rp46

6

ANDI

PT Andira Agro Tbk

27,27%

Rp28

7

BTEK

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk

27,27%

Rp14

8

ELTY

PT Bakrieland Development Tbk

26,67%

Rp38

9

PBRX

PT Pan Brothers Tbk

25%

Rp30

10

TAXI

PT Express Transindo Utama Tbk

21,43%

Rp17

11

MIRA

PT Mitra International Resources Tbk

20,83%

Rp29

12

KREN

PT Quantum Clovera Investama Tbk

20%

Rp19

13

PURA

PT Putra Rajawali Kencana Tbk

18,75%

Rp38

14

ASMI

PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk

18,75%

Rp19

15

TARA

PT Agung Semesta Sejahtera Tbk

18,75%

Rp38

16

BAPI

PT Bhakti Agung Propertindo Tbk

17,39%

Rp27

17

UVCR

PT Trimegah Karya Pratama Tbk

17%

Rp234

18

IKAI

PT Intikeramik Alamsri Industri Tbk

15%

Rp23

19

WMPP

PT Widodo Makmur Perkasa Tbk

14,81%

Rp31

20

NASA

PT Andalan Perkasa Abadi Tbk

14,70%

Rp39

21

BHIT

PT MNC Asia Holding Tbk

14,29%

Rp24

22

WINR

PT Winner Nusantara Jaya Tbk

11,54%

Rp29

23

KBAG

PT Karya Bersama Anugerah Tbk

10,53%

Rp42


Saham TAMU mencatat kenaikan tertinggi, yakni 34,62 persen menjadi Rp35. Sementara itu, KBAG menjadi saham dengan kenaikan paling rendah dalam daftar tersebut, yaitu 10,53 persen ke level Rp42.

Beri Jalan Keluar bagi Investor

Penghapusan batas harga minimum juga diharapkan memberikan jalan keluar bagi investor yang selama ini kesulitan menjual saham yang tertahan di level Rp50.

Ketika saham berada di batas bawah dan minim transaksi, investor dapat mengalami kesulitan memindahkan dana atau melakukan exit. Dengan rentang harga yang lebih fleksibel, pasar diharapkan dapat menemukan harga yang lebih mencerminkan persepsi investor.

Meski demikian, kebijakan ini juga membuka peluang penurunan harga yang lebih dalam bagi saham-saham dengan permintaan rendah. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada persentase kenaikan dalam satu sesi.

Investor Perlu Waspada

Saham dengan harga sangat rendah cenderung memiliki risiko volatilitas dan likuiditas yang lebih tinggi. Perubahan harga beberapa rupiah saja dapat menghasilkan persentase kenaikan atau penurunan yang besar.

Investor perlu memperhatikan beberapa hal sebelum mengambil keputusan:

Volume dan nilai transaksi harian.

Frekuensi perdagangan saham.

Kondisi fundamental dan prospek bisnis emiten.

Keterbukaan informasi serta aksi korporasi.

Risiko masuk atau keluarnya saham dari papan pemantauan khusus.

Kenaikan lebih dari 10 persen pada sesi I sebaiknya dilihat sebagai informasi awal, bukan sebagai jaminan bahwa harga saham akan terus menguat. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan strategi masing-masing investor.


Next Post Previous Post